Catatan Harian Ungkap Jaringan Dakwah Ulama Sulsel KH Ahmad Surur

- Senin, 23 Februari 2026 | 12:00 WIB
Catatan Harian Ungkap Jaringan Dakwah Ulama Sulsel KH Ahmad Surur

MURIANETWORK.COM - Sebuah catatan harian pribadi yang ditulis tangan oleh Kyai Haji (KH) Ahmad Surur al-Bugisi al-Pammani (1861-1932) berhasil mengungkap jejak perjuangan dan jaringan keulamaan sang imam di Pompanua, Bone. Dokumen berharga yang tersimpan puluhan tahun itu kini menjadi sumber primer untuk melacak kontribusinya dalam menyemai dakwah Islam di wilayah Sulawesi Selatan, jauh sebelum beberapa pesantren besar berdiri.

Mengenal Sang Penjaga Catatan Sejarah

Naskah-naskah kuno tersebut kini berada dalam penjagaan Fadly Ibrahim Surur, seorang cicit sekaligus sekretaris Yayasan Haji Ahmad Surur Kabupaten Bone. Fadly, yang juga seorang profesional di lingkungan BUMN, menyimpan catatan harian itu sejak 2012 setelah menerimanya dari kakeknya, AGH Yusuf Surur. Kepeduliannya terhadap sejarah keluarga dan dakwah mendorongnya untuk meneliti dan menuangkannya dalam sebuah buku berjudul "Serpihan Jejak Ulama di Pompanua (Menyemai Dakwah Islam di Nusantara)".

Sebagai alumni Lemhanas RI dan pusat kepemimpinan lainnya, Fadly telah aktif menulis artikel dan jurnal sejak 2009. Pengalamannya dalam penulisan sejarah keulamaan juga tercermin dari karya sebelumnya, seperti buku "Napak Tilas KH Ahmad Surur Al Bugisi Al Pammani" (2018).

Perjalanan Intelektual dan Spiritual Sang Imam

KH Ahmad Surur sendiri adalah putra dari Syekh Abdul Majid bin Abdul Hayyi al-Jawi al-Bugisi al-Buni, pendiri perkampungan Pompanua. Lahir pada 1861, perjalanan keilmuannya dibentuk oleh pengembaraan panjang. Ia pernah bermukim dan mendalami ilmu agama di Mekah selama sekitar empat tahun. Di tanah suci itulah, jaringan intelektualnya terbentuk melalui interaksi dengan ulama-ulama terkemuka.

Fadly Ibrahim menceritakan, sang kakek tercatat belajar dan berinteraksi dengan sosok-sosok seperti Sayyid Abdullah Dahlan dan Syekh Abdul Rasyid al-Bugisy, yang tak lain adalah ayah kandung dari AGH. Muhammad As’ad, pendiri Pesantren As’adiyah yang masyhur itu.

Pengabdian dan Disiplin di Tanah Kelahiran

Sepulangnya ke tanah air, pengabdian KH Ahmad Surur berpusat di Pompanua. Ia meneruskan dan mengembangkan pengajian yang telah dirintis ayah dan kakeknya. Pengajian yang dibinanya bahkan telah eksis sebelum Pesantren As’adiyah berdiri pada 1930 dan Pesantren Amiriyah Bone pada 1933. Selain aktif mengajar kitab kuning, ia juga diangkat sebagai imam distrik untuk wilayah Palili Desa Pompanua sejak 1923.

Kedisiplinannya tercatat dengan rapi. Pada 1928, ia menghimpun kaum remaja dalam wadah Yong Berejama, yang berfungsi sebagai kader dakwah dan penggerak aktivitas di masjid. Catatan hariannya, yang ditulis pada kertas folio bergaris merah dan biru menggunakan aksara lontara dan bahasa Arab, menjadi saksi bisu kesibukannya. Mulai dari mencatat hajatan warga, pendirian masjid, pengajian, hingga kunjungan para ulama, semuanya terdokumentasi dengan teliti.

Jaringan Ulama Nusantara dan Hadramaut

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar