Harga emas anjlok ke titik terendah dalam dua bulan terakhir pada perdagangan Rabu, 27 Mei 2026, tertekan oleh ekspektasi pasar bahwa bank sentral akan mengambil kebijakan moneter yang lebih agresif guna mengendalikan inflasi. Kondisi ini diperparah oleh ketidakpastian yang masih menyelimuti konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.
Emas spot tercatat merosot 1,14 persen ke level 4.456,12 dolar AS per troy ons. Sebelumnya, harga logam mulia ini sempat menyentuh posisi paling rendah sejak 27 Maret pada sesi sebelumnya. Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, Peter Grant, menilai faktor geopolitik masih menjadi pendorong utama pelemahan ini.
“Pengaruh terbesar masih berasal dari Timur Tengah. Sebelumnya masih ada optimisme yang tersisa, tetapi semakin lama konflik ini berlangsung, optimisme itu memudar,” ujar Grant kepada Reuters.
Ia menambahkan bahwa konflik yang berkepanjangan justru meningkatkan kekhawatiran terhadap laju inflasi. Logam mulia berada dalam tekanan sejak perang antara AS dan Israel melawan Iran pecah. Penutupan efektif Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak Brent, yang kemudian memperbesar kekhawatiran inflasi dan mendorong spekulasi kenaikan suku bunga.
Sementara itu, televisi pemerintah Iran pada Rabu melaporkan bahwa Teheran berencana memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz ke tingkat normal dalam waktu satu bulan. Langkah ini disebut sebagai bagian dari kerangka kesepakatan dengan AS yang juga mencakup penarikan pasukan Amerika dari sekitar wilayah Iran. Setelah laporan tersebut muncul, harga emas sempat memangkas sebagian pelemahannya.
Namun, pasar masih melihat inflasi yang dipicu lonjakan harga energi berpotensi mendorong Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun ini. Meski dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, emas yang tidak memberikan imbal hasil cenderung tertekan dalam lingkungan suku bunga tinggi.
Secara terpisah, Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, menyatakan bahwa bank sentral AS harus fokus mengendalikan risiko inflasi yang mulai meningkat. Meski demikian, ia menilai masih terlalu dini untuk memperkirakan kapan kebijakan suku bunga saat ini akan berubah. Investor kini menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Kamis untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.
Di sisi lain, harga perak spot turun 3,2 persen menjadi 74,46 dolar AS per ons. Bank of America dalam catatannya pada Selasa menuliskan, meski reli emas kembali berpotensi mendorong harga perak menembus 100 dolar AS per ons dalam beberapa bulan ke depan, pihaknya tidak melihat perak akan terus mengungguli secara berkelanjutan karena permintaan fundamental mulai mereda.
Sementara itu, platinum merosot 2,1 persen menjadi 1.916,90 dolar AS per ons. Sebaliknya, paladium mencatat kenaikan tipis 0,1 persen ke posisi 1.386,47 dolar AS per ons.
Artikel Terkait
Reformasi Ekspor Komoditas Dinilai Perkuat Likuiditas Valas, Namun Perbankan Waspadai Risiko Eksekusi
Dow Jones Cetak Rekor Tertinggi Ditopang Sektor Kesehatan dan Konsumen
BEI Hapus 30 Waran Terstruktur dari Perdagangan per 10 Juni 2026
Merck Bagikan Dividen Rp123,2 Miliar, Laba Melonjak 59 Persen Sepanjang 2025