MIND ID dan Pertamina Pacu Hilirisasi Batu Bara untuk Tekan Impor LPG

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:42 WIB
MIND ID dan Pertamina Pacu Hilirisasi Batu Bara untuk Tekan Impor LPG

Kolaborasi baru digagas di sektor energi nasional. MIND ID, holding industri pertambangan, resmi berkolaborasi dengan PT Pertamina untuk mendorong hilirisasi batu bara. Targetnya jelas: mengubah bahan bakar fosil itu menjadi produk energi alternatif, seperti Synthetic Natural Gas (SNG), Dimethyl Ether (DME), dan Methanol. Intinya, mereka ingin memperkuat rantai pasok mineral dan energi dalam negeri dari hulu ke hilir.

Maroef Sjamsoeddin, Direktur Utama MIND ID, menekankan bahwa kerja sama ini bukan sekadar proyek biasa. Ini adalah upaya strategis untuk membangun struktur industri nasional yang lebih kokoh.

"MIND ID melalui Bukit Asam yang nantinya berperan sebagai pemasok, bersama-sama dengan Pertamina, akan betul-betul mengawasi setiap tahap kerja sama ini hingga nantinya dapat direalisasikan dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh Bangsa dan Negara," ujarnya dalam pernyataan tertulis, Sabtu (10/1).

Dari sisi MIND ID, komitmennya adalah mendorong hilirisasi sepenuhnya. Mereka berharap langkah ini bisa memberi nilai tambah ekonomi yang signifikan, membuka lapangan kerja, dan yang tak kalah penting, mengurangi ketergantungan impor. Dalam jangka panjang, ketahanan energi nasional jadi tujuan utamanya.

Lalu, peran Pertamina seperti apa? Perusahaan energi plat merah ini akan bertindak sebagai offtaker sekaligus agregator infrastruktur distribusi. Jaringan distribusi Pertamina yang luas diharapkan bisa menyalurkan produk hasil hilirisasi seperti DME dan SNG ke masyarakat dan industri dengan efektif. Harapannya, produk ini bisa jadi substitusi yang andal untuk energi impor.

Simon Aloysius Mantiri, Dirut Pertamina, melihat ini sebagai langkah konkret. “Ini adalah langkah nyata kami dalam mengurangi ketergantungan pada impor LPG dan memastikan energi yang lebih terjangkau tersedia bagi rakyat, sejalan dengan target swasembada energi pemerintah,” katanya.

Pernyataan Simon itu punya alasan yang kuat. Data dari Kementerian ESDM cukup mencengangkan: konsumsi LPG nasional diproyeksikan melonjak hingga 10 juta metrik ton pada 2026. Sementara itu, produksi dalam negeri kita hanya mampu menyentuh angka 1,3 hingga 1,4 juta metrik ton. Jaraknya sangat jauh.

Nah, di sinilah sinergi antara MIND ID dan Pertamina menemukan momentumnya. Melalui teknologi Coal to DME dan Coal to SNG, defisit LPG yang besar itu berpeluang ditutup dengan memanfaatkan sumber daya domestik. Jika berjalan mulus, ini bukan cuma soal menutupi kekurangan, tapi lebih pada upaya memperkuat kemandirian energi kita ke depannya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar