Bonjowi Sebut Empat Dokumen Penting Jokowi Tak Ditemukan di KPU DKI
Aliansi Bongkar Ijazah Jokowi (Bonjowi) mengaku baru saja menerima setumpuk dokumen dari KPU DKI Jakarta. Proses serah terima itu berlangsung Jumat (10/4/2026), menyusul sengketa informasi yang terjadi. Tapi, bagi mereka, ada yang janggal.
Menurut Syamsuddin Alimsyah, salah satu anggota Bonjowi, bundel dokumen yang diterima memang tebal. Isinya terkait pencalonan Joko Widodo sebagai Gubernur DKI dulu. Namun begitu, setelah diperiksa, justru empat dokumen yang dianggap paling krusial malah tak ada di dalamnya.
“Proses kami tadi sudah diserahkan dokumen cukup tebal. Tapi ada empat dokumen yang paling krusial yang tidak ada,”
Syamsuddin lalu merincinya. Pertama, surat keterangan sehat atau bukti penetapan kondisi kesehatan Jokowi saat mendaftar pilkada. Dokumen ini, dalam pandangannya, penting untuk memastikan kelayakan calon secara administratif.
Lalu, tiga dokumen lainnya adalah ijazah pendidikan lama: SD, SMP, dan SMA. Yang tersedia cuma ijazah terakhir dari UGM.
“Yang ada hanya ijazah terakhir, tertulis lulus di UGM,”
Keanehan lain muncul di curriculum vitae. Di dokumen biodata itu, hanya sekolah dasar (SD 111) yang disebut dengan jelas. Untuk tingkat SMP dan SMA, cuma tercantum tahun kelulusannya saja, tanpa nama sekolah.
“Di biodata hanya disebut SD-nya, SD 111, sementara SMP dan SMA tidak dijelaskan sekolahnya di mana, hanya tahunnya saja,”
Di sisi lain, KPU DKI disebutkan telah berjanji akan melengkapi kekurangan tersebut. Hal ini diungkapkan oleh anggota Bonjowi lainnya, Lukas Luwarso.
“Iya, ada beberapa kekurangan, tadi empat dokumen. KPU DKI berjanji akan menyerahkan, akan dicari,”
Tapi justru janji itu malah memunculkan tanda tanya lebih besar. Lukas mengaku pihaknya punya versi dokumen yang sama dari KPU Solo. Kenapa di satu tempat ada, di tempat lain justru hilang?
“Kita punya versi dari KPU Solo soal ijazah SD, SMP, SMA. Jadi nanti akan saling melengkapi. Tapi justru puzzle-nya di situ, kenapa ada KPU yang punya, tapi ada yang tidak punya,”
Bonjowi tak berhenti di situ. Rencananya, mereka akan menelusuri lebih jauh ke Universitas Gadjah Mada. Mereka menduga arsip di kampus tersebut lebih lengkap. Menariknya, UGM disebut telah menyerahkan ratusan dokumen ke kepolisian, namun belum satu pun ke mereka.
“UGM sudah kooperatif dengan kepolisian menyerahkan 550 dokumen, tapi tidak menyerahkan satu pun kepada kami Bonjowi,”
Latar belakang dari semua ini adalah putusan Komisi Informasi Pusat. KIP mengabulkan sebagian gugatan Bonjowi dan memerintahkan KPU membuka informasi ijazah termasuk nomor dan tanda tangan tanpa sensor. Meski begitu, permintaan untuk membuka ijazah asli yang tidak dikuasai KPU ditolak.
Jadi, perburuan dokumen ini tampaknya masih akan berlanjut. Dengan data yang saling silang dari berbagai instansi, Bonjowi berupaya menyusun puzzle yang menurut mereka masih belum utuh.
Artikel Terkait
WN Brunei Tewas Setelah Dipukul Botol Kaca di Blok M, Sesama WN Brunei Jadi Tersangka
52 Tahanan Korupsi di KPK Jalani Salat Idul Adha di Masjid Gedung Merah Putih
Polda Bali Gelar Rakernis Humas 2026, Perkuat Strategi Lawan Hoaks dan Kawal Program Nasional
Anang Hermansyah Ungkap Alasan Jaga Silaturahmi dengan Kris Dayanti Demi Keluarga Besar