Sekitar pukul 09:30, gelombang pertama dari tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi Samudra Hindia mencapai pantai di desa Peraliya, dekat Telwatta.
Kereta berhenti karena kenaikan air di sekitarnya, dan masyarakat setempat berusaha bertahan dengan berpikir kereta dapat menjadi tempat perlindungan yang aman.
Beberapa orang bahkan naik ke atap kereta, berharap menghindari dampak gelombang.
Namun, harapan itu pupus ketika gelombang berikutnya, yang lebih besar, menghantam kereta dengan kekuatan dahsyat.
Kereta terangkat dan dihantamkan ke rumah-rumah dan pohon-pohon di sepanjang rel.
Baca Juga: Fakta Kereta Api Taeyangho yang Digunakan Kim Jong Un, Jalannya Lambat Tapi Berlapis Baja!
Gelombang membanjiri gerbong, menciptakan kepanikan di antara penumpang yang berusaha menyelamatkan diri.
Ketinggian gelombang tsunami kala itu kisaran 7,5 hingga 9 meter di atas permukaan laut, menyebabkan kereta terendam dengan cepat.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: situbondo.jatimnetwork.com
Artikel Terkait
Latihan Militer Tiga Negara di Afrika Selatan: Sinyal di Tengah Gejolak Global
Trump Klaim Hanya Moralitas Pribadi yang Bisa Menghentikannya
China Batasi Drama CEO Jatuh Cinta ke Si Miskin, Sebut Sebar Harapan Palsu
Indonesia Khawatir, Langkah Trump Cabut Diri dari 66 Organisasi Internasional Dinilai Ancam Stabilitas Global