Trump Panggil Raksasa Minyak, Tawarkan Venezuela dengan Garansi 100 Miliar Dolar

- Minggu, 11 Januari 2026 | 03:06 WIB
Trump Panggil Raksasa Minyak, Tawarkan Venezuela dengan Garansi 100 Miliar Dolar

Donald Trump punya rencana besar untuk minyak Venezuela. Dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih, Jumat lalu, Presiden AS itu mengumpulkan para bos perusahaan minyak raksasa dunia. Intinya, ia mendesak mereka untuk menanamkan modal besar-besaran sekitar 100 miliar dolar AS di negara yang sedang bergejolak itu.

“Perusahaan-perusahaan Amerika akan punya kesempatan untuk membangun kembali infrastruktur energi Venezuela yang sudah rusak,” ujar Trump membuka pertemuan.

“Dan pada akhirnya, kita bisa meningkatkan produksi minyak ke tingkat yang belum pernah ada sebelumnya.”

Undangan itu tak main-main. Hadir para eksekutif puncak dari Exxon Mobil, ConocoPhillips, Chevron, dan sejumlah perusahaan lain. Bagi Trump, minyak adalah jantung dari strateginya terhadap Caracas, terutama setelah operasi militer yang menangkap pemimpinnya, Nicolas Maduro, awal bulan ini. “Kami yang akan memutuskan perusahaan minyak mana yang boleh masuk,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kesepakatan dengan pemerintahan sementara Venezuela untuk mengalirkan 50 juta barel minyak mentah ke AS pengiriman yang disebutnya akan berlangsung tanpa batas waktu. Alasan praktisnya, banyak kilang di AS memang dirancang khusus untuk mengolah jenis minyak dari Venezuela. “Salah satu keuntungannya, harga energi di Amerika bakal lebih murah,” tambah Trump.

Namun begitu, di balik optimisme itu, ada realitas yang lebih rumit. Pasukan AS masih aktif menyita kapal-kapal tanker Venezuela di laut, hanya sehari sebelumnya penyitaan kelima diumumkan. Pejabat pemerintahan Trump berargumen, kontrol jangka panjang atas penjualan minyak Venezuela diperlukan agar negara itu bertindak sesuai kepentingan AS, termasuk memerangi korupsi dan perdagangan narkoba.

Tapi tidak semua pihak setuju. Sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat langsung menyoroti kebijakan ini, bahkan menyebutnya bentuk pemerasan. Analis industri pun mengingatkan risiko ketidakstabilan politik yang masih membayangi.

Kekhawatiran itu ternyata juga terasa di ruang rapat. Darren Woods, CEO Exxon, secara blak-blakan menyampaikan skeptisismenya. “Kami pernah dua kali aset kami disita di sana. Jadi, untuk masuk lagi untuk ketiga kalinya, dibutuhkan perubahan yang sangat besar,” katanya.


Halaman:

Komentar