Pesawat Garuda Indonesia itu mendarat di Lanud Marka, Amman, tepat pukul 19.53 waktu setempat. Udara Selasa malam sudah gelap, namun aktivitas di pangkalan udara Kerajaan Yordania itu justru sedang ramai. Presiden Prabowo Subianto baru saja tiba, langsung dari London, untuk sebuah pertemuan penting.
Kedatangannya bukan tanpa protokol. Begitu memasuki wilayah udara Yordania, pesawat PK-GIF yang ditumpanginya langsung dikawal jet tempur. Begitu turun, sambutan sudah menunggu.
Putra Mahkota Pangeran Hussein bin Abdullah al-Hashimi sendiri yang hadir menyambut, didampingi sejumlah pejabat setempat. Dari sisi Indonesia, Duta Besar Ade Padmo Sarwono dan Atase Pertahanan Kolonel Laut Dafris D. Syahruddin juga tampak.
Suara langkah pasukan kehormatan yang berbaris rapi memecah kesunyian. Mereka mengenakan seragam lengkap, memberikan penghormatan militer kepada tamu negara.
Presiden Prabowo pun membalasnya. Dengan didampingi sang Putra Mahkota, ia berjalan perlahan melakukan inspeksi pasukan. Ritual kenegaraan yang penuh kesan itu berlangsung khidmat di bawah lampu-lampu pangkalan udara.
Agenda utamanya? Pertemuan dengan sahabat lamanya, Raja Abdullah II ibn Al-Hussein. Pertemuan bilateral itu rencananya digelar Rabu (25/2) di Istana Al Husseiniya. Ini jadi lawatan kedua Prabowo sebagai Presiden ke Yordania, setelah kunjungan pertamanya di April 2025 silam.
Padahal, hubungan keduanya sudah terjalin lama. Bahkan saat masih menjabat menteri pertahanan dan presiden terpilih, Prabowo sudah pernah bertemu Raja Abdullah pada Juni 2024. Waktu itu, pembicaraan mereka banyak menyoroti krisis kemanusiaan yang memilukan di Gaza.
Raja Abdullah sendiri bukan tamu asing di Jakarta. Ia telah membalas kunjungan itu dengan datang ke Indonesia pada November 2025.
“Saya minta Raja Abdullah menjadikan Indonesia sebagai rumah keduanya,” begitu kira-kira pesan Prabowo dalam pertemuan di Jakarta waktu itu.
Selain pertemuan empat mata, Rabu juga diisi dengan serangkaian penandatanganan kerja sama di beberapa sektor antara kedua negara. Rencananya, setelah semua agenda selesai, Presiden akan bertolak dari Amman pada Rabu sore.
Sementara itu, di hotel tempatnya menginap di pusat kota, suasana berbeda sudah menanti. Puluhan diaspora dan mahasiswa Indonesia tampak antusias. Mereka sejak tadi merapikan barisan di lobi, berharap bisa menyapa langsung atau sekadar melihat dari dekat sang Kepala Negara.
Perjalanan dari London sendiri tak sendiri. Presiden didampingi sejumlah pejabat kunci seperti Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menlu Sugiono, dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Rombongan terbatas, untuk misi yang jelas.
Lawatan singkat ini, meski padat, punya bobot sejarahnya sendiri. Menegaskan sebuah persahabatan lama yang terus dijaga, sambil membawa kepentingan nasional ke meja perundingan.
Artikel Terkait
Gunung Semeru Erupsi, Kolom Abu Setinggi 1.300 Meter Terpantau Condong ke Barat
Israel Hentikan Aktivitas Pendidikan dan Tutup Pantai di Perbatasan Lebanon Akibat Eskalasi Konflik
108 Perwira Polri Dimutasi, Tiga Dirotasi ke Divisi Hukum untuk Posisi Advokasi dan Analisis
Komisi X DPR Dukung Rencana Bahasa Prancis di Sekolah, Minta Pemerintah Pastikan Kesiapan Guru