Amerika Serikat secara resmi menetapkan dua organisasi kriminal paling ditakuti di Brasil, Comando Vermelho (CV) dan Primeiro Comando da Capital (PCC), sebagai kelompok teroris asing. Keputusan yang diumumkan pada Sabtu (30/5/2026) itu langsung menuai reaksi keras dari Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, yang menentang langkah sepihak Washington.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam pernyataan resminya menyebut CV dan PCC sebagai dua organisasi kriminal paling kejam yang pernah beroperasi di Brasil. Menurut Rubio, pengaruh dan jaringan ilegal kedua kelompok itu telah melampaui batas teritorial Brasil dan merambah hingga ke wilayah Amerika Serikat.
“Bersama-sama, mereka mengendalikan ribuan anggota dan telah mengatur serangan brutal terhadap petugas polisi Brasil, pejabat publik, dan warga sipil,” ujar Rubio dalam keterangan yang dikutip dari AFP.
Penetapan ini memiliki implikasi hukum yang luas di AS. Label teroris memberikan kewenangan lebih besar bagi aparat penegak hukum, badan intelijen, dan upaya kontra-pemberontakan untuk menindak para pemimpin serta kepentingan kelompok tersebut di seluruh dunia. Kebijakan serupa sebelumnya telah diterapkan terhadap kartel narkoba Meksiko, seperti Sinaloa dan Jalisco Generasi Baru, sejak Presiden Donald Trump menjabat pada Januari 2025.
Di sisi lain, sikap Lula yang menentang keras keputusan itu tidak sejalan dengan rival politiknya dalam pemilihan mendatang, Flavio Bolsonaro. Politisi konservatif itu justru mendukung langkah AS dan telah bertemu dengan Presiden Trump awal pekan ini.
Ketegangan antara Washington dan Brasília semakin terlihat jelas. Sejak akhir musim panas 2025, militer AS telah melancarkan puluhan serangan udara terhadap kapal-kapal yang berasal dari Amerika Latin yang diduga menyelundupkan narkotika dan terkait dengan organisasi teroris. Sementara itu, negara-negara dengan pemimpin berhaluan kiri tengah seperti Meksiko dan Brasil vokal menentang penetapan tersebut, berbeda dengan Ekuador dan Honduras yang diperintah oleh pemerintahan berhaluan kanan dan justru mendukungnya.
Dalam bahasa Portugis, CV dikenal sebagai “Comando Vermelho” dan PCC disebut “Primeiro Comando da Capital.” Pada Oktober lalu, pasukan keamanan Brasil melakukan penggerebekan besar-besaran terhadap CV yang menewaskan sedikitnya 119 orang. Operasi tersebut tercatat sebagai yang paling mematikan dalam sejarah negara itu, meskipun bentrokan kecil masih kerap terjadi hingga kini.
Artikel Terkait
Igor Tolic Resmi Ditunjuk sebagai Pelatih Kepala Persib Bandung untuk Musim 2026/2027
Parlemen Ghana Sahkan UU Anti-LGBTQ Paling Represif, Nasib Kini di Tangan Presiden Mahama
Wapres Gibran Dorong PERDISKI Jadi Garda Terdepan Perjuangkan Kesejahteraan Guru
WHO: Tingkat Kematian Ebola Bundibugyo Capai 50 Persen, Vaksin Baru Tersedia dalam Beberapa Bulan