Exxon dan ConocoPhillips hengkang dari Venezuela hampir dua dekade lalu setelah aset mereka dinasionalisasi. Pengalaman pahit itu masih membekas.
Di sisi lain, nada berbeda datang dari Chevron. Wakil Ketuanya, Mark Nelson, menyatakan komitmen perusahaannya untuk tetap berinvestasi di Venezuela. Chevron saat ini adalah satu-satunya raksasa minyak AS yang masih bertahan beroperasi di sana.
Selain para pemain besar, beberapa perusahaan minyak kecil dan firma investasi juga diundang. Banyak dari mereka justru memuji langkah Trump dan menyatakan kesiapan untuk terjun.
Padahal, fakta di lapangan suram. Produksi minyak Venezuela anjlok drastis selama puluhan tahun akibat kurangnya investasi. Padahal cadangannya terbesar di dunia, kontribusinya kini cuma sekitar 1% dari pasokan global. Bandingkan dengan era 1970-an, saat mereka bisa memompa 3,5 juta barel per hari lebih dari tiga kali lipat produksi sekarang.
Menyadari keraguan investor, Trump berusaha memberi jaminan. Ia menjamin keamanan fisik dan finansial bagi perusahaan yang berani masuk, meski caranya tidak dijelaskan secara rinci. Menteri Energi AS, Chris Wright, mengisyaratkan kemungkinan penggunaan Bank Ekspor-Impor AS untuk mendanai proyek besar, sehingga bisa memangkas risiko finansial.
Di akhir pertemuan, Trump menyederhanakan logikanya. “Kita harus membuat mereka berinvestasi, lalu menarik kembali uang mereka secepat mungkin. Hasilnya nanti bisa dibagi antara Venezuela, Amerika, dan perusahaan-perusahaan itu.”
“Menurut saya ini sederhana. Rumusnya sederhana,” pungkasnya.
Tapi di dunia minyak dan geopolitik, hal-hal yang tampak sederhana sering kali justru yang paling pelik.
Artikel Terkait
BSDE Targetkan Prapenjualan Rp10 Triliun pada 2026, Andalkan BSD City
DIVA Lepas 28,5 Juta Saham Treasuri ke Pasar Mulai 11 Maret
RMK Energy Beli Kembali 2,3 Juta Saham Senilai Rp10 Miliar
IHSG Naik 0,50%, Saham JAYA Melonjak 35% Jadi Top Gainer