AS Kirim Kapal Perang Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz, Iran Ancam Tindak Tegas

- Minggu, 12 April 2026 | 11:00 WIB
AS Kirim Kapal Perang Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz, Iran Ancam Tindak Tegas

Selat Hormuz kembali memanas. Amerika Serikat baru saja mengumumkan dua kapal perangnya telah melintasi selat itu, dengan misi mulai membersihkan ranjau yang mereka klaim dipasang oleh Iran. Langkah ini langsung dibalas dengan ancaman keras dari Garda Revolusi Iran. Mereka berjanji akan menindak tegas setiap kapal militer yang melintasi jalur air strategis tersebut.

Pengumuman dari AS ini muncul tak lama setelah pernyataan Presiden Donald Trump. Trump menyebut Washington telah memulai proses 'pembersihan' di selat yang menjadi urat nadi minyak dunia sekitar seperlima minyak mentah global melewatinya. Menurut laporan AFP pada Minggu (12/4/2026), ini adalah transit pertama sejak konflik AS-Israel dengan Iran pecah.

Komandan Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, memberikan pernyataan resmi.

"Hari ini, kami memulai proses untuk membangun jalur baru," ujarnya. "Jalur aman ini akan segera kami bagikan ke industri maritim. Tujuannya jelas: mendorong arus perdagangan yang bebas dan tidak terganggu."

Operasi ini melibatkan dua kapal perusak rudal: USS Frank E. Peterson dan USS Michael Murphy. Namun begitu, CENTCOM memberi sinyal bahwa kekuatan mereka belum berhenti di situ. Dalam beberapa hari ke depan, pasukan tambahan AS termasuk drone bawah air bisa saja bergabung dalam upaya pembersihan ranjau ini.

Di sisi lain, Teheran langsung membantah klaim Washington. Mereka menyangkal kapal-kapal AS itu bahkan memasuki selat. Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa kendali penuh atas izin melintasi Selat Hormuz ada di tangan mereka.

"Inisiatif untuk melewati kapal mana pun," katanya dalam siaran televisi pemerintah, "berada di tangan angkatan bersenjata Republik Islam Iran."

Pernyataan itu sekaligus menjadi penegasan: situasi di lapangan masih sangat cair, dan klaim dari kedua belah pihak saling bersilangan. Ketegangan di perairan sempit itu, tampaknya, masih akan berlanjut.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini