Intelijen AS Ungkap Rencana Pengiriman Rudal Anti-Pesawat China ke Iran

- Minggu, 12 April 2026 | 06:00 WIB
Intelijen AS Ungkap Rencana Pengiriman Rudal Anti-Pesawat China ke Iran

Jakarta - Intelijen Amerika Serikat baru-baru ini mengungkap adanya rencana pengiriman sistem pertahanan udara baru dari China ke Iran. Menurut laporan, pengiriman senjata ini bisa terjadi dalam hitungan pekan. Hal ini muncul di tengah-tengah negosiasi yang sedang berlangsung antara Teheran dan Washington.

Seperti dilaporkan Reuters, AS menduga pengiriman tersebut akan dilakukan secara terselubung. Modusnya? Lewat negara ketiga. Cara ini lumrah dipakai untuk mengaburkan asal-usul senjata, entah lewat transit di negara perantara, memanfaatkan jaringan logistik komersial, atau memalsukan dokumen pengapalan.

Sistem yang dimaksud adalah Man-Portable Air Defense Systems atau MANPADS. Intinya, ini rudal anti-pesawat yang bisa dibawa dan dioperasikan oleh satu atau dua orang saja. Kalau benar sampai di tangan Iran, kemampuan pertahanan udara mereka bakal naik signifikan. Soalnya, senjata jenis ini terkenal gesit mudah dipindahkan, mudah disembunyikan, dan cukup mematikan untuk menghadang pesawat terbang rendah atau helikopter. Cocok untuk perang asimetris.

Di sisi lain, hubungan China dan Iran memang sudah lama erat, terutama di bidang ekonomi. Beijing adalah pembeli minyak utama Teheran. Nah, kalau sekarang China mulai masuk ke ranah militer seperti ini, situasinya jadi makin ruwet. Bisa dibilang, ini menambah dimensi baru dalam ketegangan geopolitik yang sudah melibatkan banyak kekuatan global.

Laporan intelijen ini muncul pada momen yang cukup krusial. Pasalnya, Iran dan AS sedang melakukan pembicaraan di Islamabad, Pakistan, yang tujuannya mengakhiri konflik berlarut-larut di Timur Tengah konflik yang sudah berjalan sekitar enam minggu.

Pakistan sendiri sudah mengumumkan bahwa negosiasi damai akan dilanjutkan pekan ini. Ini menyusul gencatan senjata selama dua minggu yang disepakati kedua belah pihak. Proposal dari Teheran dan Washington kini jadi sorotan, karena bisa menentukan apakah perdamaian di kawasan itu benar-benar terwujud.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan bahwa gencatan senjata telah disepakati dan berlaku segera untuk seluruh wilayah konflik, termasuk Lebanon. Ia juga menegaskan bahwa negosiasi lanjutan akan digelar di negaranya.

“Saya menyambut hangat isyarat bijaksana ini dan menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada pimpinan kedua negara,” ujar Sharif.

Ia kemudian menambahkan, “Saya mengundang delegasi mereka ke Islamabad pada hari Jumat, 10 April 2026.”

Pertemuan pada tanggal itu diharapkan bisa menghasilkan kesepakatan final yang menyelesaikan seluruh perselisihan. Namun begitu, jika laporan pengiriman senjata China ke Iran itu terbukti, proses diplomasi yang sudah berjalan alot ini jelas akan semakin rumit. Ketegangan bukan cuma antara AS dan Iran, tapi berpotensi merembet dan melibatkan Beijing.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar