Dubes Iran Tegaskan: Perdamaian Timur Tengah Hanya Mungkin dengan Gencatan Senjata Menyeluruh

- Minggu, 12 April 2026 | 07:15 WIB
Dubes Iran Tegaskan: Perdamaian Timur Tengah Hanya Mungkin dengan Gencatan Senjata Menyeluruh

Dari kampus Paramadina di Jakarta Timur, suara Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, terdengar tegas. Saat ditemui pada Sabtu lalu, ia menyampaikan pesan yang jelas: perdamaian di Timur Tengah hanya bisa terwujud dengan satu syarat mutlak. Syarat itu adalah gencatan senjata yang berlaku menyeluruh, mencakup seluruh kawasan. Tanpa itu, kata Boroujerdi, jangan harap ada perdamaian.

Menurutnya, pihaknya sudah mengajukan usulan gencatan senjata itu sebagai bentuk niat baik. Meski tanpa didasari kepercayaan penuh, usulan itu diajukan. Bukan cuma untuk Iran, tapi untuk semua wilayah yang bergejolak.

“Kemudian mengusulkan bahwa gencatan senjata tidak hanya terjadi di Iran, namun gencatan senjata melingkupi atau mencakup di kawasan. Dan itu usulan yang kita sampaikan,”

jelas Boroujerdi.

Logikanya sederhana: agar perang benar-benar berhenti, ia harus dihentikan di mana-mana. Bukan cuma di satu titik api. Namun begitu, realitas di lapangan jauh dari harapan. Boroujerdi dengan gamblang menuding Israel sebagai pihak yang kerap merusak kesepakatan.

“Tentunya kita juga menyaksikan bahwa Zionis selalu melanggar aturan-aturan atau kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati. Dan itu tidak sekali dua kali kita lihat,”

tandasnya.

Ia lalu menyebutkan sederet contoh. Konflik dengan Palestina, Gaza, Lebanon, hingga Yaman. Polanya, katanya, selalu berulang. Kesepakatan dicapai, lalu dilanggar.

“Kita menyaksikan berkali-kali. Dengan Palestina misalnya, dengan Gaza, dengan Lebanon, dengan Yaman, dan bahkan dengan negara-negara tetangganya. Berkali-kali menyepakati gencatan senjata namun mereka, rezim Zionis Israel ini, kemudian melanggarnya,"

imbuhnya, menekankan pola yang ia anggap konsisten.

Di sisi lain, tekanannya tetap pada prinsip utama. Gencatan menyeluruh itu bukan sekadar pilihan, melainkan fondasi. Tanpanya, segala upaya damai akan sia-sia belaka.

“Jika tidak diterima, maka tidak ada perdamaian sama sekali,”

pungkas Boroujerdi, menutup pernyataannya dengan nada yang tak memberi ruang kompromi.

(Febrina Ratna Iskana)

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar