Pagar besi yang sebelumnya membentang di depan Mal Kota Kasablanka, Menteng Dalam, Jakarta Selatan, kini telah dicopot. Pantauan pada Senin (3/8) menunjukkan pagar yang semula terpasang dari gerbang masuk hingga gerbang keluar kendaraan roda empat itu sudah tidak ada, hanya menyisakan bekas baut penyangga yang ditutupi cone pembatas jalan. Di area tersebut, kini tampak ornamen bertuliskan Dirgahayu RI yang dipasang di bagian tengah.
Pencopotan ini menyusul sorotan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, terhadap pemasangan pagar tinggi di sejumlah kawasan, terutama mal dan perkantoran. Menurutnya, pagar tinggi justru mengganggu kenyamanan dan menimbulkan kesan bahwa kondisi keamanan sedang tidak baik-baik saja. Padahal, Jakarta saat ini dalam keadaan aman.
“Bahkan saya berpikir pagarnya itu enggak perlu tinggi-tinggi. Kemudian yang penting pohonnya yang banyak, lebih hijau. Antara satu dan sebelah, bersebelahan itu juga mungkin lebih baik dibuka. Sehingga dengan demikian kami akan segera memutuskan untuk itu, untuk Jakarta ya,” ujar Pramono saat membuka turnamen tenis Piala Gubernur DKI Jakarta 2026 di Hotel Borobudur, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Sabtu (1/8).
Pemprov DKI Jakarta berencana menertibkan pemasangan pagar yang dinilai berlebihan. Senada dengan itu, Astamaops Polri Komjen Pol Fadil Imran menegaskan bahwa berdasarkan data Daily Operating Reporting System (DORs), tidak ada kejadian menonjol yang mengindikasikan potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), khususnya di bulan Agustus 2026.
“Sampai hari ini berdasarkan data DORs, tidak ada hal yang menonjol. Ya, tidak ada. Jadi, masyarakat jangan termakan dengan isu-isu akan terjadi gangguan Kamtibmas yang mencemaskan,” kata Fadil di GOR UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur, Sabtu (1/8).
Fadil juga menanggapi isu yang mengaitkan pemasangan pagar di sejumlah mal dan gedung dengan situasi keamanan pada Agustus. Menurutnya, membangun pagar adalah hal lazim dan tidak seharusnya dimaknai sebagai pertanda akan terjadi sesuatu.
“Saya kira orang memagari rumahnya kan biasa. Jangan kemudian dibangun narasi seolah-olah kalau bangun pagar akan terjadi sesuatu. Saya kira tidak seperti itu tafsir dan terjemahannya ya, teman-teman sekalian,” jelasnya.
Artikel Terkait
Damkar Gugur saat Padamkan Kebakaran, Pemprov DKI Beri Kenaikan Pangkat Anumerta
Jakarta Siap Gantikan Daerah Lain Jadi Tuan Rumah Ajang Olahraga Nasional dan Internasional
Pagar Tinggi di Mal Jakarta Dibongkar Usai Ditegur Pramono
KAI Tegaskan Area Jalur Rel Tak Boleh Dipakai Main Sepak Bola