Kinerja keuangan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di tahun 2025 lalu sebenarnya cukup gemilang. Bayangkan saja, pendapatan operasionalnya menembus angka Rp111,1 triliun. Itu artinya tumbuh 5,4% dibanding tahun sebelumnya. Laba bersihnya pun tak kalah solid, mencapai Rp57,5 triliun dengan kenaikan hampir 5% year-on-year.
Tapi anehnya, pasar saham punya cerita lain. Sejak awal 2026, harga saham emiten perbankan raksasa ini justru terpuruk. Sampai tanggal 7 April kemarin, pelemahannya sudah nyaris 19%. Ini sejalan dengan tren IHSG yang juga lesu, terkoreksi lebih dari 15% sepanjang tahun berjalan.
Menurut pengamat pasar modal Rendy Yefta, aksi jual massal oleh investor asing menjadi penyebab utama. Tapi di balik kepanikan itu, justru tersembunyi peluang.
Rendy melihat ada anomali yang relatif langka di sini. Di satu sisi, laba BBCA mencetak rekor fantastis. Bahkan, angka labanya itu jauh lebih besar ketimbang total market cap puluhan bank menengah di bursa. Di sisi lain, harga sahamnya justru terjun bebas. Padahal, bank ini punya segalanya: dana murah (CASA) yang melimpah, efisiensi operasional terjaga, dan basis nasabah yang sangat loyal.
Artikel Terkait
Cimory Bagikan Dividen Final Rp793 Miliar, Total Capai Rp1,59 Triliun
OCBC NISP Bagikan Dividen Rp1,03 Triliun, Nilai per Saham Turun 58%
Avian Brands Bagikan Dividen Final Rp709 Miliar, Total 2026 Capai Rp1,36 Triliun
ARNA Bagikan Dividen Rp330 Miliar, Setara Rp45 per Saham untuk Tahun Buku 2025