Kinerja keuangan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di tahun 2025 lalu sebenarnya cukup gemilang. Bayangkan saja, pendapatan operasionalnya menembus angka Rp111,1 triliun. Itu artinya tumbuh 5,4% dibanding tahun sebelumnya. Laba bersihnya pun tak kalah solid, mencapai Rp57,5 triliun dengan kenaikan hampir 5% year-on-year.
Tapi anehnya, pasar saham punya cerita lain. Sejak awal 2026, harga saham emiten perbankan raksasa ini justru terpuruk. Sampai tanggal 7 April kemarin, pelemahannya sudah nyaris 19%. Ini sejalan dengan tren IHSG yang juga lesu, terkoreksi lebih dari 15% sepanjang tahun berjalan.
Menurut pengamat pasar modal Rendy Yefta, aksi jual massal oleh investor asing menjadi penyebab utama. Tapi di balik kepanikan itu, justru tersembunyi peluang.
"Karena itu, proyeksinya ke depan bakal kembali menguat, seiring dengan fundamental yang kuat, terutama dari sisi kinerja keuangan yang terus tumbuh berkelanjutan," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (10/4/2026).
Rendy melihat ada anomali yang relatif langka di sini. Di satu sisi, laba BBCA mencetak rekor fantastis. Bahkan, angka labanya itu jauh lebih besar ketimbang total market cap puluhan bank menengah di bursa. Di sisi lain, harga sahamnya justru terjun bebas. Padahal, bank ini punya segalanya: dana murah (CASA) yang melimpah, efisiensi operasional terjaga, dan basis nasabah yang sangat loyal.
"Bukan hanya fundamentalnya saja yang kuat, tapi benar-benar 'anti-badai'," tegas Rendy.
Secara historis, pasar selalu memberi premium untuk kualitas BBCA. Saham blue chip super ini biasanya nyaman di level Price to Book Value (PBV) 4x sampai 5x. Namun, kepanikan global dan rotasi sektor memaksa harganya turun drastis. Rendy menyebut fenomena ini sebagai sinyal beli, semacam 'bom waktu capital gain' yang siap meledak.
"Ini adalah fenomena undervalued yang sangat langka untuk saham sekelas kasta tertinggi. Mengambil BBCA di harga di bawah Rp7.000 ibarat Anda memungut Mercy di showroom dengan harga Avanza," katanya dengan analogi yang gamblang.
Proyeksinya, begitu kepanikan mereda, harga BBCA tidak akan merangkak, tapi berlari kencang menuju normalisasi valuasi di PBV 4x. Potensi capital gain-nya bisa sangat masif bagi yang berani ambil posisi di harga rendah sekarang.
Rendy pun mengingatkan para investor untuk menanti rilis kinerja kuartal I-2026 yang akan segera keluar. Dengan efisiensi dan penyaluran kredit yang masih melesat, laporan itu diprediksi akan kembali menampilkan laba jumbo yang menyilaukan.
"Ketika laporan resmi keluar, institusi besar dan manajer investasi raksasa akan berebut masuk kembali. Jika Anda baru mau membeli saat berita bagus itu menyebar di publik, maka akan terlambat. Anda akan terpaksa membeli di harga puncak," pungkasnya.
Jadi, di tengah grafik yang merah, analis justru melihat cahaya terang. Semuanya sekarang tergantung pada kesabaran dan timing.
Artikel Terkait
Metland Targetkan Marketing Sales Rp2 Triliun pada 2026
Hong Kong Salip Swiss sebagai Pusat Kekayaan Lintas Batas Terbesar Dunia
Metland Bagikan Dividen Rp74,2 Miliar dari Laba 2025, Setara Rp9,7 per Saham
PT Daaz Bara Lestari Nilai Kebijakan Ekspor Satu Pintu Tak Berdampak Material pada Kinerja