Hong Kong berhasil menyalip Swiss sebagai pusat kekayaan lintas batas terbesar di dunia. Pencapaian ini didorong oleh derasnya aliran modal yang masuk dari China daratan serta kebangkitan pasar ekuitas di wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan Global Wealth Report 2026 yang dirilis oleh Boston Consulting Group (BCG), total aset luar negeri yang tercatat di Hong Kong pada tahun 2025 mencapai 2,95 triliun dolar AS. Angka ini meningkat 10,7 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Saat ini, keunggulan Hong Kong atas Swiss masih terbilang tipis. Namun, selisih tersebut diperkirakan akan terus melebar dalam beberapa tahun mendatang. BCG memproyeksikan kesenjangan antara Hong Kong dan Swiss bisa mencapai 600 miliar dolar AS pada tahun 2030. Proyeksi ini didukung oleh dominasi sektor manufaktur China serta kebangkitan pasar perdana (IPO) di Hong Kong.
Direktur Pelaksana BCG, Michael Kahlich, menyebut bahwa fenomena ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam peta kekayaan global.
“Kita melihat penciptaan kekayaan, aliran modal lintas batas, dan ekosistem investasi semakin terkonsentrasi pada segelintir pusat finansial yang terhubung secara global,” ujarnya.
“Kebangkitan Hong Kong mencerminkan daya tarik gravitasi yang semakin besar dari pasar modal Asia,” tambah Kahlich.
Setelah bertahun-tahun menghadapi pembatasan akibat pandemi dan gejolak politik, Hong Kong kini secara agresif memulihkan daya tariknya. Wilayah ini menawarkan pajak rendah, kumpulan talenta yang melimpah, serta pasar modal yang berkembang pesat kepada para elite global.
Strategi tersebut membuahkan hasil. Ketegangan geopolitik, termasuk ketidakstabilan di Timur Tengah, turut mendorong kaum ultra-kaya untuk melakukan diversifikasi aset ke kawasan Asia. Untuk mempertahankan momentum ini, Hong Kong berencana memperluas keringanan pajak ke lebih banyak kelas aset di masa depan.
Artikel Terkait
Metland Targetkan Marketing Sales Rp2 Triliun pada 2026
Metland Bagikan Dividen Rp74,2 Miliar dari Laba 2025, Setara Rp9,7 per Saham
PT Daaz Bara Lestari Nilai Kebijakan Ekspor Satu Pintu Tak Berdampak Material pada Kinerja
Wilmar Buka Suara soal Dugaan Transfer Pricing dan Under-Invoicing Ekspor CPO, Klaim Belum Terima Pemberitahuan Resmi