Hong Kong Salip Swiss sebagai Pusat Kekayaan Lintas Batas Terbesar Dunia

- Kamis, 28 Mei 2026 | 14:50 WIB
Hong Kong Salip Swiss sebagai Pusat Kekayaan Lintas Batas Terbesar Dunia

Hong Kong berhasil menyalip Swiss sebagai pusat kekayaan lintas batas terbesar di dunia. Pencapaian ini didorong oleh derasnya aliran modal yang masuk dari China daratan serta kebangkitan pasar ekuitas di wilayah tersebut.

Berdasarkan laporan Global Wealth Report 2026 yang dirilis oleh Boston Consulting Group (BCG), total aset luar negeri yang tercatat di Hong Kong pada tahun 2025 mencapai 2,95 triliun dolar AS. Angka ini meningkat 10,7 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Saat ini, keunggulan Hong Kong atas Swiss masih terbilang tipis. Namun, selisih tersebut diperkirakan akan terus melebar dalam beberapa tahun mendatang. BCG memproyeksikan kesenjangan antara Hong Kong dan Swiss bisa mencapai 600 miliar dolar AS pada tahun 2030. Proyeksi ini didukung oleh dominasi sektor manufaktur China serta kebangkitan pasar perdana (IPO) di Hong Kong.

Direktur Pelaksana BCG, Michael Kahlich, menyebut bahwa fenomena ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam peta kekayaan global.

“Kita melihat penciptaan kekayaan, aliran modal lintas batas, dan ekosistem investasi semakin terkonsentrasi pada segelintir pusat finansial yang terhubung secara global,” ujarnya.

“Kebangkitan Hong Kong mencerminkan daya tarik gravitasi yang semakin besar dari pasar modal Asia,” tambah Kahlich.

Setelah bertahun-tahun menghadapi pembatasan akibat pandemi dan gejolak politik, Hong Kong kini secara agresif memulihkan daya tariknya. Wilayah ini menawarkan pajak rendah, kumpulan talenta yang melimpah, serta pasar modal yang berkembang pesat kepada para elite global.

Strategi tersebut membuahkan hasil. Ketegangan geopolitik, termasuk ketidakstabilan di Timur Tengah, turut mendorong kaum ultra-kaya untuk melakukan diversifikasi aset ke kawasan Asia. Untuk mempertahankan momentum ini, Hong Kong berencana memperluas keringanan pajak ke lebih banyak kelas aset di masa depan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar