Ahli Ingatkan Pentingnya Konsistensi Orang Tua Atasi Kecanduan Gadget pada Anak

- Senin, 13 April 2026 | 05:00 WIB
Ahli Ingatkan Pentingnya Konsistensi Orang Tua Atasi Kecanduan Gadget pada Anak

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA Suasana di ruang keluarga belakangan ini memang berbeda. Kalau dulu riuh oleh canda dan obrolan, sekarang lebih sering sunyi. Yang ada cuma cahaya layar yang menyala dari gawai di tangan anak-anak. Mereka duduk berdekatan, tapi perhatiannya terpaut jauh ke dunia masing-masing. Terhubung dengan game online, tapi justru terputus dari percakapan nyata di sekitarnya.

Bagi banyak orang tua, meminta anak untuk meletakkan gadget bukan perkara mudah. Rasanya seperti membuka medan pertempuran kecil di dalam rumah sendiri. Suara bisa meninggi, tangisan kerap pecah, bahkan tak jarang diakhiri dengan bantingan pintu. Di momen-momen seperti itulah, orang tua sering merasa goyah. Haruskah aturan ditegakkan, atau lebih baik mengalah demi ketenangan yang cuma sesaat?

Padahal, reaksi emosional anak saat gadget-nya diambil sebenarnya wajar-wajar saja. Menurut para ahli, itu adalah bentuk keterikatan yang sudah terbentuk. Sebuah kombinasi antara kebiasaan, kesenangan instan, plus kebutuhan sosial mereka yang kini banyak terpenuhi di ruang digital.

Di sinilah ujian sesungguhnya bagi orang tua. Peran kita bukan cuma sebagai pembuat aturan, tapi lebih sebagai penuntun emosi. Memang, membatasi tanpa memahami bakal memicu konflik. Tapi memahami tanpa memberi batas juga bisa berujung pada ketergantungan yang makin parah.

Psikiater Subspesialis Psikiatri Adiksi, Kristiana Siste Kurniasanti, pernah mengingatkan hal penting. Katanya, orang tua sebaiknya tidak langsung bereaksi saat anak tantrum.

“Ketika anak marah, menangis, atau berteriak, itu bukan selalu bentuk ‘perlawanan’. Itu cara mereka mengekspresikan frustrasi yang belum bisa dikelola dengan baik,” jelasnya.

Nah, respons orang tua ternyata punya pengaruh besar. Bisa memperkuat atau justru meredakan perilaku tersebut. Coba deh diingat-ingat. Kalau kita panik, ikut marah, atau akhirnya menyerah, anak akan belajar sesuatu: bahwa tantrum adalah ‘senjata’ yang ampuh. Sebaliknya, kalau kita bisa tetap tenang dan konsisten, anak pelan-pelan akan paham mana batas yang tidak boleh dilewati.

Konsistensi itu memang jadi kunci utama. Aturan nggak cukup cuma diomongin sekali. Harus dijaga dengan pola yang sama setiap hari. Misalnya, menetapkan waktu bermain yang jelas, menentukan lokasi penggunaan gadget yang terbuka (bukan di kamar terkunci), dan membiasakan mengakhiri aktivitas digital di jam tertentu.

Tapi, ngomong-ngomong soal aturan, itu saja tidak cukup. Anak tetap butuh alternatif. Bayangkan, gadget diambil, lalu tidak ada aktivitas pengganti. Yang tersisa ya kekosongan. Dan di situlah tantrum mudah sekali muncul. Makanya, orang tua perlu hadir dengan opsi lain. Ajak main board game, keluar rumah untuk aktivitas fisik, atau sekadar ngobrol ringan tentang harinya.

Intinya, ini soal keseimbangan. Di satu sisi, kita perlu tegas menetapkan batas. Di sisi lain, kita juga harus hadir secara emosional untuk mengisi ruang yang ditinggalkan oleh layar itu. Tidak mudah, memang. Tapi perlahan-lahan, dengan kesabaran dan konsistensi, suasana ruang keluarga bisa kembali hangat. Bukan oleh cahaya gadget, tapi oleh kehadiran kita sendiri.

sumber : Antara

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar