Inflasi AS Melonjak ke Level Tertinggi Setahun Akibat Konflik Iran dan Harga BBM

- Minggu, 12 April 2026 | 12:30 WIB
Inflasi AS Melonjak ke Level Tertinggi Setahun Akibat Konflik Iran dan Harga BBM

Konflik bersenjata di Timur Tengah, tepatnya di Iran, kembali mengguncang peta ekonomi global. Kali ini, Amerika Serikat merasakan dampaknya secara langsung. Inflasi melonjak tajam bulan lalu, didorong oleh kenaikan harga BBM bulanan terbesar dalam enam puluh tahun terakhir. Situasi ini jelas jadi mimpi buruk bagi para pembuat kebijakan di Federal Reserve, sekaligus menambah beban politik yang sudah menumpuk di Gedung Putih.

Menurut data Departemen Tenaga Kerja AS yang dirilis Sabtu lalu, harga barang-barang konsumsi naik 3,3 persen pada Maret dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Angka ini jauh lebih tinggi dari Februari yang hanya 2,4 persen. Secara bulanan, kenaikannya mencapai 0,9 persen yang terbesar dalam hampir empat tahun. Ini adalah kenaikan tahunan tertinggi sejak Mei 2024.

Dampaknya paling terasa di rumah tangga. Lonjakan harga bensin langsung menggerus anggaran keluarga, terutama yang berpenghasilan rendah dan menengah. Uang yang seharusnya untuk belanja kebutuhan pokok seperti makanan atau bayar sewa, tergerus di pom bensin. “Ini menyakitkan dalam jangka pendek. Ini akan menjadi lebih menyakitkan pada bulan April,” ujar Michael Pearce, kepala ekonom AS di Oxford Economics. Dia memprediksi kenaikan harga gas lebih lanjut akan terus mendongkrak inflasi.

Namun begitu, Pearce melihat ada perbedaan mendasar dengan krisis beberapa tahun silam. “Saya pikir kondisinya jauh lebih seperti guncangan singkat dan tajam daripada yang kita lihat pada tahun 2022,” tuturnya.

Memang, jika dilihat dari harga inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi yang fluktuatif kenaikannya lebih moderat. Pada Maret, harga inti naik 2,6 persen secara tahunan, hanya naik tipis dari 2,5 persen di Februari. Secara bulanan, kenaikannya hanya 0,2 persen. Ini menunjukkan, setidaknya untuk saat ini, gejolak harga energi belum menyebar luas ke kategori barang lainnya.

Meski demikian, ketidakpastian masih sangat besar. Perang dan dampaknya terhadap inflasi dalam beberapa bulan ke depan sulit diprediksi. Gencatan senjata yang rapuh dan perubahan situasi di Selat Hormuz jalur vital pengiriman minyak dunia membuat segalanya jadi makin rumit.

Di lapangan, industri yang bergantung pada bahan bakar langsung merasakan tekanan. Maskapai penerbangan, misalnya. Mereka membebankan biaya tambahan kepada penumpang: harga tiket pesawat melonjak 2,7 persen hanya dalam sebulan, dan 14,9 persen lebih tinggi dibanding setahun lalu. Perusahaan pengiriman seperti UPS dan FedEx juga sudah memberlakukan biaya tambahan bahan bakar, yang ujung-ujungnya membuat ongkos kirim naik untuk bisnis dan konsumen rumahan.

Yang menarik, harga bahan makanan justru turun 0,2 persen bulan lalu. Secara tahunan, kenaikannya hanya 1,9 persen. Tapi jangan senang dulu. Para ekonom mewanti-wanti, harga pangan bisa naik dalam beberapa bulan mendatang seiring melambungnya harga solar. Sebagian besar makanan di AS diangkut dengan truk.

Andy Harig, Wakil Presiden di kelompok perdagangan FMI-The Food Industry Association, membenarkan hal ini.

“Seiring kenaikan harga energi, biaya yang terkait dengan produksi dan pengiriman makanan juga meningkat,” katanya.

Di kategori lain, harga pakaian naik 1 persen secara bulanan. Sedangkan harga mobil bekas justru turun 0,4 persen bulan lalu, melanjutkan tren penurunan tahunan sebesar 3,2 persen.

Lalu, bagaimana respons The Fed? Guncangan harga gas ini kemungkinan besar akan mengubah arah kebijakan bank sentral AS. Pemotongan suku bunga yang sudah dinanti-nanti pasar diprediksi akan ditunda beberapa bulan ke depan. Meski begitu, banyak pejabat The Fed diperkirakan akan lebih fokus pada tren harga inti yang lebih lambat, ketimbang terpancing oleh lonjakan inflasi utama.

Masalahnya, respons konsumen jadi variabel kunci. Jika masyarakat Amerika mengurangi pengeluaran di sektor lain karena uangnya habis untuk beli bensin, perekonomian bisa melambat dan pengangguran berpotensi naik. Indikatornya sudah terlihat: survei Universitas Michigan menunjukkan sentimen konsumen anjlok ke level terendah sepanjang masa pada April.

“Banyak konsumen menyalahkan konflik Iran atas perubahan yang tidak menguntungkan bagi perekonomian,” jelas Joanne Hsu, direktur survei konsumen universitas tersebut.

Di pom bensin, angka bicara lebih keras. Harga rata-rata bensin per galon di AS mencapai USD4,15 pada Jumat lalu. Naik hampir 40 persen dari USD2,98 sehari sebelum perang dimulai.

Memang, situasi kali ini berbeda dengan puncak inflasi Juni 2022 yang mencapai 9,1 persen. Kala itu, pandemi COVID-19 mengacaukan rantai pasokan global, ditambah gelombang stimulus pemerintah yang memicu permintaan konsumen meledak. Sekarang, pasar tenaga kerja dan pengeluaran konsumen relatif lebih lemah, tanpa ada stimulus besar dari pemerintah.

Alan Detmeister, ekonom di UBS, menyoroti perbedaan mendasar ini.

“Di situlah perbedaannya, yaitu kita tidak melihat kekuatan permintaan yang mendekati sebelumnya,” katanya.

Dia menambahkan, pada 2021 dan 2022, pertumbuhan pendapatan melesat sangat cepat. Tren seperti itu tidak terlihat sekarang. Jadi, meski sakit, rasa nyerinya mungkin tak akan selama dulu.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar