Kapolda Riau Buka Ruang Kritik dan Perkenalkan Konsep Green Policing

- Rabu, 25 Februari 2026 | 00:15 WIB
Kapolda Riau Buka Ruang Kritik dan Perkenalkan Konsep Green Policing

Dalam suasana buka puasa bersama di Pekanbaru, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menyampaikan pesan penting. Polri, tegasnya, sama sekali tidak anti kritik. Justru sebaliknya, lembaganya membuka ruang dialog seluas-luasnya bagi semua elemen masyarakat.

“Kami terbuka, mau dikritik silakan dikritik. Kami sangat terbuka untuk berdialog dan menerima kritikan serta masukan,” ujar Herry, Selasa (24/2/2026) lalu.

Pernyataan itu disampaikannya di hadapan perwakilan mahasiswa dari Cipayung Plus, berbagai Organisasi Kepemudaan, dan Badan Eksekutif Mahasiswa se-Riau. Menurutnya, kritik itu diterima asalkan sesuai fakta. Ia lantas menyinggung sebuah kasus yang sempat viral.

“Kemarin kita dikritik 110 tidak merespons, ternyata tidak pernah melaporkan ke 110 dan ternyata korban jatuh sendiri bukan tabrak lari, ada CCTV-nya,” jelas jenderal bintang dua itu, memberi contoh.

Di momentum Ramadan ini, Kapolda mengajak para mahasiswa merenung. Nilai-nilai positif seperti kesabaran dan kepedulian yang diasah di bulan suci, katanya, harus jadi landasan membangun harmoni. Bukan cuma antar sesama, tapi juga dengan alam sekitar.

“Nilai-nilai ini menjadi landasan dalam membangun hubungan harmonis antara kita semua sesama manusia dan juga dengan alam dan lingkungan,” jelas Herry.

Peran Vital Kaum Muda

Pada kesempatan yang sama, Kapolda mendorong mahasiswa untuk jadi agen perubahan. Caranya? Dengan membuka ruang dialektika, saling mempertentangkan ide untuk mendapatkan gagasan terbaik.

“Kalau kita sudah paham dan siap dipertentangkan, kita ke mana-mana pun tidak takut. Kenapa masuk polisi, TNI butuh wawancara, karena kita butuh ide-ide yang baik,” katanya.

Ajakan itu berlanjut. Kontribusi nyata dari generasi muda sangat dinantikan. Tidak hanya untuk manusia, tapi secara lebih luas untuk lingkungan.

“Saya ingin membuka kembali bagaimana memberikan kontribusi nyata kepada diri sendiri, lingkungan, dan negara. Jika pohon sudah memiliki dahan kuat dan daun lebat, kita bisa berkontribusi tidak hanya untuk keluarga, tetapi juga lingkungan sekitar,” ujarnya menggambarkan.

Herry kemudian menyoroti sesuatu yang kerap luput. Keadilan, selama ini, seolah hanya fokus pada hubungan antar manusia. Sementara alam sering diabaikan. Ia mempertanyakan hilangnya kesadaran menjaga hutan, mengingat sejarah karhutla yang mulai marak sejak 2004 masalah yang sebelumnya nyaris tak dikenal di Riau.

Menutup sambutannya, Kapolda memperkenalkan sebuah konsep: Green Policing. Ini dimaksudkannya sebagai alat bagi masyarakat untuk bersinergi dengan Polri dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Kehadiran saya di sini bersama seluruh jajaran Polda Riau untuk memberikan narasi-narasi yang bagus agar masyarakat itu sadar memberikan ekologi. Dari emansipasi ke ekosipasi. Dari ekosipasi ke Green Policing. Dan Green Policing itu tujuannya adalah tools agar masyarakat bisa bersinergi dengan Polri,” pungkasnya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar