Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini memiliki 57 Taman Nasional dan 143 Taman Wisata Alam yang tersebar di berbagai wilayah, dengan tren kunjungan wisatawan yang terus menunjukkan peningkatan signifikan setiap tahunnya. Pernyataan tersebut disampaikan dalam peluncuran aplikasi "Ayo ke Taman Nasional" yang berlangsung di Jakarta, Kamis (4/6) lalu.
Menurut Raja Juli, angka kunjungan ke taman nasional selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Hal ini, menurutnya, menjadi indikator positif bahwa masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, mulai beralih dari kebiasaan menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan atau sekadar berdiam diri di kamar. "Anak-anak kita tidak hanya suka ke mal, tidak hanya mager main ponsel di kamar masing-masing, tetapi outdoor activity sudah menjadi aktivitas mainstream yang setiap tahunnya meningkat," ujarnya dalam keterangan pers yang diterima, Jumat (5/6).
Peluncuran aplikasi "Ayo ke Taman Nasional" merupakan bagian dari upaya transformasi digital di sektor kehutanan. Aplikasi ini dirancang untuk mempermudah masyarakat dalam mengakses informasi dan layanan kunjungan ke kawasan wisata alam di Indonesia. Inisiatif tersebut digulirkan dalam rangkaian pembukaan Indonesia Outdoor Festival (INDOFEST), sebuah ajang yang dikenal sebagai "lebarannya para pendaki".
Di sisi lain, Raja Juli menegaskan bahwa Kementerian Kehutanan memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan setiap kawasan konservasi yang dikunjungi masyarakat tetap aman dan nyaman. "Saya sebagai Menhut memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan taman nasional dan taman wisata alam yang dikunjungi menjadi tempat yang aman, nyaman, dan memberikan pengalaman yang baik bagi seluruh pengunjung," kata politikus yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu.
Transformasi digital dalam pengelolaan taman nasional menjadi salah satu prioritas utama. Raja Juli mengakui bahwa saat pertama kali menjabat sebagai Menteri Kehutanan, sistem penjualan tiket di sejumlah kawasan konservasi masih dilakukan secara manual, bahkan dengan metode sobek tiket. "Saya merasa ini tidak efektif, tidak efisien, sekaligus tidak transparan dan akuntabel," ungkapnya.
Dari kondisi tersebut, ia mendorong percepatan digitalisasi layanan. Hingga saat ini, sebanyak 93 persen dari total Taman Nasional di Indonesia telah menerapkan sistem tiket elektronik. Meskipun demikian, masih terdapat sejumlah kendala infrastruktur di kawasan terpencil, seperti keterbatasan akses internet dan listrik. "Masih ada beberapa tempat yang mengalami kendala internet dan listrik, tetapi kami mencari teknologi yang paling efisien, termasuk pemanfaatan solar panel, sehingga di tempat-tempat terpelosok sekalipun kita bisa menawarkan layanan e-ticketing yang lebih baik," jelas Raja Juli.
Melalui aplikasi "Ayo ke Taman Nasional", masyarakat dapat membeli tiket masuk, memperoleh informasi destinasi, serta mengakses berbagai layanan lainnya dalam satu platform terintegrasi. "Transformasi digital merupakan salah satu cita-cita yang kini telah berjalan sekitar 93 persen dan diperkuat dengan hadirnya aplikasi ini," tutupnya.
Artikel Terkait
Mantan Wakil Kepala BGN Siap Jadi Justice Collaborator, Bongkar Keterlibatan Eksekutif dan Legislatif di Kasus Korupsi Makan Bergizi Gratis
Sri Mulyani Bantah Isu Mundur dari Menkeu, Tegaskan Tetap Jalankan Perintah Presiden
Penangkapan Empat Mantan Pejabat BGN dan Wamen oleh Kejagung-KPK Disambut Positif, DPR Sebut Negara Sedang Bersih-bersih
Duduk di Antara Dua Sujud: Momen Singkat yang Sarat Delapan Permohonan Hidup dan Akhirat