Gerakan duduk di antara dua sujud, yang dalam istilah fikih dikenal sebagai iftirasy, kerap dipandang sebagai jeda singkat dan sering kali dilewati dengan tergesa-gesa. Padahal, di balik momen yang tampak sederhana ini, tersimpan delapan permohonan yang mencakup kebutuhan mendasar manusia, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat.
Dalam praktik salat, posisi ini bukan sekadar pemisah antara dua sujud, melainkan menjadi momen krusial di mana seorang hamba secara langsung memohon ampunan, keselamatan, hingga rezeki kepada Allah Swt. Agar ibadah semakin khusyuk, penting untuk memahami tata cara duduk yang benar dan makna di balik setiap bacaan yang diucapkan.
Secara teknis, posisi duduk di antara dua sujud dilakukan dengan membentangkan kaki kiri dan mendudukinya, sementara kaki kanan ditegakkan dengan jari-jari menghadap ke arah kiblat. Kedua telapak tangan diletakkan di atas paha dengan jari-jari juga menghadap kiblat. Tubuh dalam posisi tegak, pundak rileks, dan pandangan tetap tertuju ke tempat sujud.
Adapun bacaan yang dianjurkan pada momen ini adalah: “Rabbighfir lii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa ‘aafinii wa’fu ‘annii.” Artinya, “Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, berikan aku petunjuk, berikan aku kesehatan, dan maafkanlah aku.”
Meskipun singkat, doa ini memiliki kedalaman makna yang luar biasa. Setiap frasa dalam bacaan tersebut merangkum kebutuhan spiritual dan fisik manusia, sekaligus menjadi pengakuan akan kelemahan diri di hadapan Sang Pencipta. Permohonan Rabbighfir lii, misalnya, merupakan ungkapan untuk memohon penghapusan dosa dan kesalahan. Sementara itu, Warhamnii berisi harapan agar hidup senantiasa diliputi kasih sayang dan lindungan Allah.
Di sisi lain, Wajburnii mengandung permohonan agar Allah menutupi kekurangan, memperbaiki hati yang terluka, dan mencukupkan segala kebutuhan. Warfa’nii menjadi doa untuk diangkat derajatnya di sisi Allah melalui amal ibadah. Tidak hanya itu, Warzuqnii adalah permohonan rezeki yang halal dan berkah, sedangkan Wahdinii meminta petunjuk agar tetap berada di jalan yang lurus.
Permohonan Wa’aafinii memiliki arti yang sangat luas, yakni meminta perlindungan dan keselamatan dari penyakit serta musibah. Terakhir, Wa’fu ‘annii menjadi puncak dari rangkaian doa ini, yaitu permohonan agar dosa dihapuskan secara total, seolah-olah tidak pernah ada.
Dengan memahami makna dari setiap bacaan dalam duduk di antara dua sujud, diharapkan umat Muslim dapat semakin menghayati ibadahnya. Bukan sekadar gerakan fisik, momen ini menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan merenungkan kebutuhan hakiki sebagai hamba yang lemah.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Pantau Perkembangan Kasus Dugaan Korupsi Imigrasi yang Ditangani KPK
Mantan Wakil Kepala BGN Siap Jadi Justice Collaborator, Bongkar Keterlibatan Eksekutif dan Legislatif di Kasus Korupsi Makan Bergizi Gratis
Sri Mulyani Bantah Isu Mundur dari Menkeu, Tegaskan Tetap Jalankan Perintah Presiden
Penangkapan Empat Mantan Pejabat BGN dan Wamen oleh Kejagung-KPK Disambut Positif, DPR Sebut Negara Sedang Bersih-bersih