Yusuf Wahyudi (37), warga Jeblog, Kalurahan Tirtonirmolo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, resmi melaporkan perusakan rumahnya oleh sekelompok orang yang diduga debt collector (DC) ke Polres Bantul. Laporan tersebut diterima pada Rabu (22/7) malam, sehari setelah insiden terjadi pada Selasa (21/7) malam.
"Malam tadi didatangi (petugas) Polda, Polsek juga. Kedatangan dari Polda itu meminta keterangan. Saya diminta untuk membuat laporan, akhirnya saya membuat laporan malam tadi ke Polres Bantul," kata Yusuf, Kamis (23/7).
Kasi Humas Polres Bantul Iptu Rita Hidayanto membenarkan bahwa korban telah membuat laporan resmi. "Laporan tersebut sudah kami terima dan akan segera ditindaklanjuti sesuai prosedur serta ketentuan hukum yang berlaku," ujar Rita, Kamis (23/7).
Menurut Rita, polisi langsung mendatangi lokasi setelah menerima laporan keributan. "Kehadiran anggota saat itu bertujuan untuk mengendalikan situasi agar tidak semakin berkembang dan memastikan kondisi keamanan masyarakat tetap kondusif," jelasnya. Polisi berkomitmen menyelidiki kasus ini secara profesional dan objektif. "Semua pihak yang berkaitan dengan peristiwa ini akan dimintai keterangan," tegas Rita.
Peristiwa bermula pada Selasa siang, saat Yusuf menerima telepon dari kakak perempuannya yang mengaku dibentak-bentak DC di rumahnya di Gamping, Kabupaten Sleman. Yusuf langsung mendatangi lokasi. "Kakak saya kan bilang dibentak-bentak gitu. Saya kan langsung ke sana. Yang penting kan saya, ya masak kakak saya wanita digetak-getak saya kan ya juga emosi," katanya.
Setiba di sana, mobil Toyota Rush milik kakaknya dibawa saudara ke tempat aman. Yusuf menegaskan mobil itu tidak dibawa lari, melainkan untuk mengantisipasi penarikan paksa karena telat angsuran delapan bulan. Kakak Yusuf telah berkomitmen menyelesaikan tunggakan keesokan harinya. "Maksudnya dibawa itu tidak bawa-bawa lari. Takutnya ditarik gitu. Wong besok kan mau diurus," ujarnya.
Usai dari Gamping, Yusuf pulang ke rumahnya di Kasihan. Namun, menjelang Magrib, belasan orang datang dengan empat mobil dan beberapa sepeda motor. Sebagian dari mereka membawa senjata tajam, termasuk celurit. Mereka menantang Yusuf keluar. "Nantang-nantang saya. Dikira saya yang backup, dikira saya yang gimana," katanya.
Terjadi mediasi singkat. Rombongan meminta uang makan sebesar Rp 25 juta. Yusuf yang ditemani rekannya mencoba bernegosiasi, namun tiba-tiba diserang. "Dinego tetapi baru nego-negoan saya diserang," ucapnya. Yusuf lari ke dalam rumah, dikejar salah satu pelaku. Saat itu, ibu dan anaknya yang berusia empat tahun berada di dalam. "Mamak (ibu saya) semaput (pingsan). Anak saya gendong, saya lewat belakang (rumah kabur). Tapi saya dengar 'dar der dar der, pyar pyar' (suara kaca pecah)," kenangnya.
Keesokan paginya, Yusuf mendapati lemari etalase milik ibunya dan dua lemari rusak. Batu sisa keributan masih berserakan di dalam rumah. Sebuah sepeda motor Vario sempat dibawa paksa rombongan, tetapi kemudian dikembalikan. Akibat kejadian ini, anak dan orang tua Yusuf mengalami trauma.
Artikel Terkait
Debt Collector Pinjol Diduga Lecehkan Nasabah di Kosan, Polisi Turun Tangan
Debt Collector Kredivo Diduga Ajak Nasabah ke Kos demi Lunasi Utang
Pemuda Tenggelam di Sungai Oya Bantul, Tim SAR Lanjutkan Pencarian
Warga Bantul Raib Rp100 Juta Ditipu Modus Penggandaan Uang