Embun pagi masih menempel di jendela ketika kerumunan orang bergegas menuju tempat kerja. Di Asia Timur dan Pasifik, statistik ketenagakerjaan memang terlihat solid lebih baik dari rata-rata global. Tapi coba lihat lebih dekat. Di balik angka-angka yang tampak meyakinkan itu, tersembunyi kegelisahan yang tak tercatat. Banyak anak muda yang kesulitan mendapatkan pijakan pertama di dunia kerja. Sektor informal dipadati oleh pekerja dengan produktivitas rendah. Dan yang mengkhawatirkan, di sebagian besar negara, jumlah kelas rentan justru melampaui kelas menengah.
Laporan Ekonomi Bank Dunia untuk kawasan ini, yang terbit Oktober 2025, memotret persis keadaan itu. Intinya: lapangan kerja memang tercipta, tapi kualitasnya tidak mengimbangi kuantitas. Produktivitas tertatih-tatih. Dan mesin yang dulu menjadi andalan untuk menciptakan pekerjaan produktif, kini mulai kehilangan tenaga.
Pertumbuhan Melambat, Harapan Tertekan
Memang, pertumbuhan ekonomi kawasan ini masih lebih kencang dibanding belahan dunia lain. Namun begitu, lajunya sudah tidak secepat dulu. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan akan melorot jadi sekitar 4,8% di tahun 2025, lalu melambat lagi di 2026. China, misalnya, diperkirakan turun dari 4,8% menjadi 4,2%. Indonesia cenderung stagnan di angka 4,8%. Vietnam masih bertengger di posisi relatif tinggi, meski trennya juga menurun.
Perlambatan ini bukan cuma urusan dalam negeri. Faktor eksternal punya andil besar. Hambatan perdagangan makin menjadi. Ketidakpastian kebijakan global melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Pertumbuhan negara-negara maju juga melemah. Bank Dunia memberi catatan serius: penurunan satu poin persentase pertumbuhan di negara G7 bisa memangkas pertumbuhan negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik sekitar 0,6 poin di tahun berikutnya.
Dunia usaha merespons dengan sikap hati-hati. Investasi banyak yang ditahan. Rencana ekspansi dan rekrutmen karyawan ditunda. "Wait and see" seolah jadi mantra baru yang dipegang erat oleh para pelaku bisnis.
Anak Muda Tersisih di Tengah Lapangan Kerja
Secara statistik, sebagian besar pencari kerja di kawasan ini akhirnya dapat pekerjaan. Tapi laporan itu menyoroti ironi yang menyakitkan: kaum muda justru kesulitan masuk. Di China dan Indonesia, contohnya, satu dari tujuh orang muda menganggur. Angka pengangguran kelompok usia 15-24 tahun jauh lebih tinggi ketimbang kelompok usia lain.
Masalah ini makin runyam karena perubahan struktur ekonomi. Dulu, antara 1970-an hingga 1990-an, tenaga kerja berpindah dari pertanian ke manufaktur dan jasa yang produktif. Sekarang? Sejak awal 2000-an, perpindahan justru mengarah ke sektor jasa informal dengan produktivitas rendah, seperti ritel atau konstruksi. Pergeseran yang dulu jadi motor penggerak kelas menengah, kini dayanya melemah.
Akibatnya bisa ditebak. Kelas rentan membengkak jumlahnya. Di banyak negara di kawasan ini, orang yang hidup dalam kondisi rentan jumlahnya lebih banyak daripada kelas menengah. Hanya segelintir negara seperti Malaysia, Thailand, China, dan Vietnam yang berhasil membangun kelas menengah hingga lebih dari 40% populasinya, berkat transformasi struktural yang lebih berhasil.
Robot: Teman atau Lawan?
Di sini, teknologi hadir sebagai paradoks. Robot industri terbukti mendongkrak produktivitas dan bahkan menciptakan lapangan kerja baru di beberapa tempat. Ambil contoh Vietnam. Penambahan satu robot per seribu pekerja di sana justru meningkatkan kesempatan kerja di tingkat distrik sekitar 6-9%, sekaligus menaikkan upah 2-4%.
Tapi manfaatnya tidak merata. Antara 2018 dan 2022, penggunaan robot industri menciptakan sekitar dua juta pekerjaan formal yang membutuhkan keterampilan tinggi. Di sisi yang berseberangan, sekitar 1,4 juta pekerjaan informal berketerampilan rendah justru hilang, mendorong pekerja kembali ke sektor informal.
Lalu bagaimana dengan AI? Dampak empirisnya belum terasa luas. Risiko kehilangan pekerjaan karena AI di Asia Tenggara sebenarnya lebih rendah dibanding negara maju, karena hanya sekitar 13% pekerjaan yang melibatkan tugas kognitif non-rutin. Namun begitu, justru karena itu pula potensi manfaat AI bagi kawasan ini juga lebih terbatas.
Napas Perusahaan Baru yang Makin Pendek
Ada satu hal yang sering terlewat dari perbincangan publik. Bukan usaha kecil yang jadi pahlawan utama penciptaan lapangan kerja, melainkan perusahaan-perusahaan baru. Di Malaysia dan Vietnam, perusahaan baru menyumbang 57% total lapangan kerja dan bahkan hingga 79% pekerjaan baru yang tercipta antara 2000 dan 2019.
Sayangnya, laju kelahiran perusahaan baru ini menurun di hampir seluruh kawasan. Pertumbuhan startup setelah mereka masuk pasar juga lambat. Di AS, startup yang bertahan bisa menambah tenaga kerja hingga tujuh kali lipat dalam 30 tahun. Di China, hanya empat kali. Di Vietnam, angkanya bahkan kurang dari dua kali lipat.
Apa penyebabnya? Hambatan masuk pasar, dominasi BUMN di sektor-sektor strategis, plus regulasi yang justru membatasi persaingan semua itu menjadi ganjalan serius bagi dinamika bisnis.
Jalan Reformasi yang Masih Panjang
Kesimpulan dari laporan Bank Dunia cukup jelas: mendorong pertumbuhan jangka pendek cuma dengan stimulus fiskal tidak akan cukup. Reformasi domestik yang lebih mendalam jauh lebih menentukan. Investasi di kesehatan, pendidikan, dan pelatihan adalah kunci untuk meningkatkan kapasitas manusia. Infrastruktur fisik dan digital mutlak diperlukan untuk membuka peluang ekonomi. Dan yang paling sulit: memastikan semua itu berjalan beriringan.
Asia Timur dan Pasifik punya sejarah gemilang. Transformasi struktural pernah mengangkat jutaan orang dari kemiskinan. Tapi tantangan sekarang berbeda. Dunia lebih proteksionis. Teknologi bergerak sangat cepat. Sementara itu, generasi muda hanya menunggu di depan pintu yang seolah tak kunjung terbuka lebar.
Pekerjaan itu masih ada. Tapi pekerjaan yang bermartabat, produktif, dan menjanjikan masa depan? Itu yang semakin langka. Di situlah pertaruhan sesungguhnya bagi kawasan ini. Bukan cuma soal menjaga angka pertumbuhan, melainkan memastikan setiap orang mendapat tempat yang layak di dalamnya.
|WAW-JAKSAT
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Resmikan RSUD KH Muhammad Thohir di Lampung, Target Renovasi 400 RS dan 10 Ribu Puskesmas
Dua Mahasiswi UPN Veteran Jatim Terjebak 30 Menit di Lift Akibat Listrik Padam
Mahfud MD Desak Kejaksaan Agung Periksa Wakil Pimpinan BGN Nanik S Deyang soal Korupsi MBG
Kebakaran di Makassar, Satu Rumah dan Kos-Kosan Ludes Dilalap Api