Dari pengasingannya di Los Angeles, Reza Pahlavi akhirnya angkat bicara. Berita meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu reaksi keras dari putra mahkota terakhir itu. Pesannya singkat tapi tegas: rakyat Iran harus bersiap.
Melalui akun X-nya, Minggu lalu, Pahlavi merespons laporan-laporan yang menyebut Khamenei tewas dalam serangan udara. Dia sudah tinggal di Amerika Serikat sejak revolusi 1979 menggulingkan ayahnya. Menurutnya, ini adalah akhir dari sebuah era.
“Zahhak yang haus darah di zaman kita, pembunuh puluhan ribu putra putri Iran paling berani, telah dihapus dari halaman sejarah,” tulisnya.
Dia tak ragu menyatakan, “Dengan kematiannya, Republik Islam secara efektif telah berakhir dan akan segera dibuang ke tong sampah sejarah.”
Bagi Pahlavi, upaya rezim untuk mencari pengganti Khamenei niscaya akan gagal. Siapa pun yang ditunjuk, menurutnya, tak akan punya legitimasi. Mereka, kata dia, sudah terlibat terlalu dalam dalam kejahatan rezim yang lama.
Peringatan juga ditujukannya kepada aparat. Militer, polisi, dan pasukan keamanan di dalam negeri diminta untuk tidak lagi mendukung rezim yang tengah limbung ini. Dia mendesak mereka memilih rakyat.
“Aparat harus bergabung dengan rakyat,” serunya, “untuk membantu memastikan transisi Iran yang stabil menuju masa depan yang bebas dan makmur.”
Di sisi lain, dia melihat momen ini sebagai sebuah perayaan. Kematian Khamenei disebutnya sebagai ‘perayaan nasional besar’. Nuansa naratifnya berubah jadi ajakan bertindak.
“Waktu untuk kehadiran besar-besaran dan tegas di jalanan sudah sangat dekat,” tulis Pahlavi, dengan nada yang semakin menggebu.
“Bersama-sama, bersatu dan teguh, kita akan mengamankan kemenangan akhir. Kita akan merayakan kemerdekaan Iran di seluruh tanah air kita. Hidup Iran!”
Pesan itu berakhir dengan seruan patriotik. Gema dari seorang putra mahkota yang, setelah puluhan tahun, melihat sebuah jendela peluang tiba-tiba terbuka lebar.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 3.0 Guncang Tapanuli Selatan
DPR Minta Kejelasan Pemerintah soal Nasib RUU Inisiatif, Termasuk Perlindungan PRT
Kades dan Kontraktor Klaten Ditahan Terkait Dugaan Korupsi Dana Renovasi Masjid Rp 203 Miliar
Iran Tegaskan Hak Nuklirnya Tak Bisa Ditawar, Desak AS Tunjukkan Itikad Baik