“Tidak ada solusi militer untuk program nuklir Iran.” Begitu tegas Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada hari Jumat. Menurutnya, upaya menghancurkan program itu dengan kekerasan sudah terbukti gagal. Satu-satunya jalan yang tersisa, ya diplomasi.
Dalam wawancara dengan program AS "Morning Joe", Araghchi bersikukuh bahwa teknologi nuklir negaranya adalah hasil jerih payah sendiri. “Dikembangkan oleh tangan dan ilmuwan kami sendiri,” ujarnya. Karena itu, program itu tak bisa begitu saja dihancurkan lewat pemboman atau aksi militer apapun.
“Satu-satunya solusi adalah diplomasi,” tekan dia. Pernyataan ini sekaligus disebutkannya sebagai alasan Amerika Serikat akhirnya kembali ke meja perundingan untuk mencari kesepakatan.
Di sisi lain, Araghchi juga menyampaikan pesan yang cukup keras. Iran, katanya, siap untuk perdamaian dan diplomasi, “sejauh kita siap untuk membela diri.” Baginya, negosiasi adalah cara satu-satunya untuk memastikan program nuklir itu tetap damai selamanya.
Soal detail teknis, dia mengklarifikasi beberapa hal. Iran belum mengusulkan penangguhan pengayaan apa pun. Pihak Amerika juga, katanya, belum secara resmi menuntut pengayaan nol persen. Fokus pembicaraan justru pada bagaimana menjamin semua aktivitas nuklir Iran termasuk pengayaan tetap bersifat damai untuk selamanya. Imbalannya? Pencabutan sanksi dan langkah-langkah membangun kepercayaan.
“Tidak ada tenggat waktu khusus,” kata Araghchi soal kemajuan pembicaraan. Meski hasil yang cepat diinginkan kedua belah pihak, tantangan sebenarnya adalah mengubah momentum itu jadi sebuah “kesepakatan yang adil dan seimbang.” Sesuatu yang bisa mengatasi kekhawatiran masing-masing.
Putaran pembicaraan tidak langsung terbaru di Jenewa digambarkannya sebagai “diskusi yang sangat baik.” Isu nuklir dan sanksi AS dibahas, dan kedua pihak konon sudah punya pemahaman soal sejumlah “prinsip panduan” serta kemungkinan struktur kesepakatan ke depan. Bahkan, Iran sudah diminta menyiapkan draf teks untuk dibahas pada pertemuan berikutnya.
Lalu, bagaimana cara menjamin perdamaian permanen ini? Araghchi menyebut ada “komitmen teknis dan politik” yang bisa diandalkan, yang berpotensi lebih kuat dari kesepakatan tahun 2015. Dia juga memberi pujian untuk Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, atas peran konstruktifnya dengan menawarkan proposal teknis.
“Jika Amerika berbicara kepada rakyat Iran dengan bahasa yang penuh hormat, kami akan merespons dengan bahasa yang sama,” ujar Araghchi, mencoba membedakan antara kebijakan pemerintah AS dengan sentimen publik.
Artikel Terkait
Macron Serukan Koalisi Kemerdekaan untuk Lawan Dominasi AS dan China
Iran Klaim Tembak Jatuh Dua Jet Tempur AS, Bantah Klaim Trump Soal Pertahanan Udara
Akademisi Soroti Troll Army sebagai Alat Baru Propaganda Politik di Era Digital
Trump Ancam Rebut Pulau Kharg, Ultimatum AS ke Iran Berakhir 6 April