Pemprov DKI Rencanakan Trem Baru untuk Revitalisasi Kawasan Kota Tua

- Kamis, 09 April 2026 | 20:15 WIB
Pemprov DKI Rencanakan Trem Baru untuk Revitalisasi Kawasan Kota Tua

Jakarta - Kawasan Kota Tua bakal punya ikon transportasi baru yang sebenarnya sudah lama hilang: trem. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengungkap rencana itu dalam sebuah dialog di Balai Kota, Kamis lalu. Menurutnya, trem tak cuma jadi solusi transportasi ramah lingkungan, tapi juga bagian dari karakter kawasan bersejarah itu.

"Memang salah satu tujuannya mengurangi emisi. Kita sedang membahas rencana membangun trem di dalam Kota Tua," ujar Rano.

Ia bahkan punya kenangan pribadi dengan moda transportasi itu. Rano bercerita, di usia delapan tahun dulu, ia masih sempat merasakan naik trem dari Pasar Baru menuju Kota Tua.

"Dulu waktu saya umur delapan tahun, saya masih sempat naik trem. Kalau dibangun lagi di Kota Tua, itu bisa mengurangi emisi sekaligus menghidupkan suasana lamanya," ungkapnya.

Nostalgia saja tentu tidak cukup. Rano menekankan, kehadiran trem harus selaras dengan rencana besar revitalisasi yang sedang digodok Pemprov. Kawasan itu rencananya dibagi tiga zona: inti, pengembangan, dan penunjang. Zona inti seluas 80 hektar termasuk Museum Bahari dan Alun-alun Fatahillah akan jadi prioritas.

Namun begitu, ada tantangan teknis yang harus diatasi. Rencana trem ini harus didesain beriringan dengan proyek MRT Jakarta yang juga akan melintas di kawasan serupa. Alignment atau penyesuaian detail mutlak diperlukan agar fungsi dan jalurnya tidak tumpang tindih.

"Kita harus mendesain bersama-sama dengan MRT, karena itu juga akan jadi jalur MRT," jelasnya.

Pada intinya, revitalisasi Kota Tua bukan sekadar soal mempercantik fasad bangunan tua. Lebih dari itu, bagaimana menata ulang akses dan mobilitas bagi warga dan wisatawan. Kehadiran trem, sebagai angkutan rendah emisi, diharapkan bisa menjawab dua hal sekaligus: mengurangi polusi dan memperkuat atmosfer heritage.

"Trem ini salah satu opsi yang sedang kita siapkan. Yang penting desainnya matang dan tidak mengganggu kawasan cagar budaya," imbuh Rano.

Jadi, bayangkan saja. Beberapa tahun ke depan, kita mungkin bisa menikmati perjalanan dengan trem klasik melintasi bangunan-bangunan kolonial. Sebuah perpaduan antara masa lalu dan masa depan, tepat di jantung ibu kota.


(bel/ygs)

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar