Iran Klaim Tembak Jatuh Dua Jet Tempur AS, Bantah Klaim Trump Soal Pertahanan Udara

- Jumat, 03 April 2026 | 14:40 WIB
Iran Klaim Tembak Jatuh Dua Jet Tempur AS, Bantah Klaim Trump Soal Pertahanan Udara

Klaim Presiden AS Donald Trump bahwa pertahanan udara Iran sudah hancur, tampaknya jauh dari kenyataan. Justru, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) malah mengumumkan keberhasilan baru mereka. Dua jet tempur canggih AS lagi berhasil ditembak jatuh. Salah satunya bahkan disebut-sebut sebagai F-35 siluman kedua.

Menurut pernyataan resmi IRGC pada Jumat lalu, sistem pertahanan udara mutakhir mereka berhasil menghantam sebuah F-35 di wilayah Iran tengah. Pesawat dari skuadron Lakenheath itu dilaporkan hancur total saat jatuh.

“Karena hancurnya pesawat secara total, nasib pilot masih belum diketahui,” begitu bunyi pernyataan mereka. Situasinya memang suram.

Sebelum kabar itu beredar, IRGC juga melaporkan insiden serupa di selatan. Sebuah jet tempur "canggih" lainnya menjadi sasaran di dekat Pulau Qeshm. Pesawat itu kemudian terjun bebas, jatuh ke perairan dalam Teluk Persia yang gelap.

IRGC dengan tegas menyatakan bahwa aksi ini adalah bentuk teguran. Sebuah jawaban langsung atas retorika Washington yang belakangan ini makin keras.

“Menyusul klaim palsu dari Presiden AS yang pembohong mengenai penghancuran total pertahanan udara IRGC, beberapa saat yang lalu sebuah jet tempur musuh canggih dihantam di selatan Pulau Qeshm,” demikian isi pernyataan yang dikutip dari Press TV. Aksi ini digambarkan sebagai hasil kerja sistem pertahanan udara modern Angkatan Laut mereka.

Ini bukan kali pertama. Catatan IRGC menunjukkan serangkaian keberhasilan yang, jika benar, sangat mencengangkan. Sejak konflik memanas, mereka mengklaim telah menjatuhkan dua F-35, satu F-18, dua F-16, dan empat F-15. Kerugian besar bagi angkatan udara manapun.

Di sisi lain, respons AS terkesan dikelola dengan hati-hati. Pentagon secara resmi hanya mengonfirmasi hilangnya tiga F-15 dan sebuah pesawat tanker KC-135. Untuk insiden lainnya, narasi yang dikeluarkan seringkali mengarah pada "tembakan salah sasaran" atau sekadar "kecelakaan" biasa.

Ada satu laporan menarik dari Maret lalu. Saat itu, media AS mengonfirmasi sebuah F-35 melakukan pendaratan darurat di sebuah pangkalan di Asia Barat. Penyebabnya diduga kuat adalah tembakan dari Iran. Meski awalnya coba diremehkan, laporan lanjutan dari NPR menyebut pesawat itu rusak parah dan tak akan bisa terbang dalam waktu dekat.

Yang paling menggelitik adalah pengumuman militer AS soal jatuhnya sebuah F-35… di Nevada. Banyak pengamat yang menyambutnya dengan skeptis. Mereka menilai itu mungkin hanya cerita tutup-tutupan yang putus asa, sebuah upaya untuk mengalihkan perhatian dari kemungkinan hilangnya aset berharga itu di medan perang yang sebenarnya.

Jadi, di lapangan, situasinya ternyata jauh lebih berdebu dan rumit daripada sekadar klaim kemenangan dari satu pihak. Setiap pengumuman, baik dari Tehran maupun Washington, membawa muatan politisnya sendiri. Dan di tengah semua itu, yang jelas, harga sebuah jet tempur siluman itu sangatlah mahal baik secara finansial maupun politik.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar