Di sisi lain, gizi dan ketahanan pangan juga punya peran besar. Studi tahun 2024 menunjukkan, anak dengan pola makan sehat cenderung meraih skor IQ lebih tinggi. Jadi, negara yang mampu menyediakan akses pangan bergizi dan minim kerawanan, peluangnya lebih besar untuk punya rata-rata IQ yang mengesankan.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah kesempatan belajar dan stimulasi kognitif. Main catur secara rutin, contohnya, disebut bisa meningkatkan kinerja anak dalam hal-hal terkait IQ. Atau menjadi bilingual. Studi klasik tahun 1962 menemukan anak dwibahasa sering lebih unggul dalam beberapa tes inteligensi dibanding anak monolingual. Intinya, aktivitas yang merangsang pikiran dan jadi bagian dari budaya sehari-hari bisa berkontribusi pada kemampuan nalar yang lebih kuat.
Lalu, bagaimana dengan genetik? Memang, studi kembar tahun 2013 melaporkan heritabilitas IQ dalam suatu populasi bisa berkisar 50-80 persen. Tapi ini penting: heritabilitas menjelaskan variasi dalam satu kelompok, bukan perbedaan mutlak antarnegara.
Jadi, secara umum, negara dengan sistem kesehatan kuat, gizi terjaga, akses pendidikan berkualitas, dan lingkungan yang mendukung perkembangan kognitif, biasanya akan unggul dalam tes penalaran. Korea Selatan, dengan segala dinamika dan kontroversinya di dunia maya, rupanya memenuhi banyak kriteria itu.
Artikel Terkait
Virgoun Akui Proses Hukum dengan Inara Rusli Masih Berjalan
Lyodra Ginting Rilis Single Rohani Perdana Melodi Cinta-Mu Tuhan
Dude Harlino dan Alyssa Soebandono Diperiksa 7 Jam sebagai Saksi Kasus DSI Rp2,4 Triliun
Dude Harlino Klaim Tak Tahu Masalah PT DSI, Baru Paham Setelah Rapat DPR