Minggu depan, rupiah berpotensi terpuruk lebih dalam. Bahkan, ada kemungkinan nilai tukarnya menembus angka psikologis Rp17.100 per dolar AS. Situasinya memang sedang tidak mudah.
Pemicunya? Dua hal yang saling berkait: harga minyak dunia yang melonjak dan ketegangan geopolitik global yang makin panas, terutama di Timur Tengah. Kombinasi ini seperti badai sempurna bagi mata uang negara berkembang.
Analis Keuangan Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa tekanan utama datang dari dua arah. Di satu sisi, dolar AS menguat. Di sisi lain, harga energi membubung tinggi.
“Ketika dolar menguat dan harga minyak naik, kebutuhan devisa untuk impor energi otomatis meningkat. Ini yang memberikan tekanan besar terhadap rupiah,”
ujarnya dalam pernyataan resmi, Minggu (5/4/2026).
Dia memperingatkan, harga minyak mentah WTI bisa melesat hingga ke kisaran USD116 per barel. Konflik di Timur Tengah yang kian eskalasi mengancam jalur distribusi energi global, dan itu membuat semua negara importir minyak termasuk Indonesia harus siap-siap merogoh kocek lebih dalam. Bayangkan saja, kebutuhan minyak kita sehari-hari mencapai 800.000 hingga 900.000 barel. Lonjakan harga jelas akan membebani neraca perdagangan dan memperlebar defisit transaksi berjalan. Ujung-ujungnya, rupiah yang jadi korban.
Lalu, ada lagi faktor penguat dolar. Indeks dolar AS diproyeksikan menguat ke level 98, bahkan mungkin mendekati 102. Ekspektasi bahwa The Fed akan bertahan dengan suku bunga tinggi di tengah ekonomi AS yang masih solid, membuat dolar makin diminati.
Artikel Terkait
Analis Prediksi Harga Minyak Bisa Tembus US$116 per Barel Pekan Depan
OPEC+ Naikkan Kuota Produksi, Namun Gangguan di Selat Hormuz Hambat Realisasi
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan