“Dolar yang semakin kuat membuat arus modal cenderung keluar dari pasar negara berkembang. Ini memperparah tekanan terhadap rupiah,”
tuturnya.
Selain hitung-hitungan ekonomi, suasana pasar juga digelayuti ketidakpastian. Konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina membuat investor global panik. Mereka berlarian mencari aset aman seperti dolar dan emas, meninggalkan mata uang lain, termasuk rupiah.
Menurut Ibrahim, selama ketegangan geopolitik belum reda dan harga minyak tetap mahal, tekanan terhadap rupiah akan terus berlanjut. Bahkan, jika kondisi global memburuk, bukan tidak mungkin kita akan melihat level pelemahan baru yang lebih dalam.
“Pasar saat ini sangat sensitif terhadap isu geopolitik. Selama konflik masih berlangsung, volatilitas akan tinggi dan rupiah cenderung berada dalam tekanan,”
pungkasnya.
Singkatnya, pekan depan kita harus bersiap untuk gejolak yang mungkin belum berakhir.
Artikel Terkait
Analis Prediksi Harga Minyak Bisa Tembus US$116 per Barel Pekan Depan
OPEC+ Naikkan Kuota Produksi, Namun Gangguan di Selat Hormuz Hambat Realisasi
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan