Pertemuan OPEC yang digelar Minggu lalu menghasilkan keputusan yang cukup menarik. Tiga sumber yang mengetahui pembicaraan itu mengungkapkan, kelompok produsen minyak itu sepakat menaikkan kuota produksi sebesar 206 ribu barel per hari mulai Mei 2026. Tapi, jangan terlalu berharap dulu. Kenaikan ini, bagi banyak pengamat, cuma di atas kertas belaka. Kenyataannya di lapangan, situasinya jauh lebih rumit.
Perang antara AS–Israel dan Iran yang berkecamuk sejak akhir Februari telah memporak-porandakan banyak hal. Salah satu dampak paling krusial adalah penutupan Selat Hormuz. Jalur vital ini, yang biasa dilalui 20% minyak dunia, praktis macet total. Efeknya langsung terasa. Ekspor dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak yang sebelumnya masih punya kapasitas cadangan ikut terpangkas drastis.
Di sisi lain, anggota OPEC lainnya juga sedang tak berkutik. Ambil contoh Rusia. Negeri itu masih terkungkung sanksi Barat, ditambah lagi infrastrukturnya rusak parah akibat perang dengan Ukraina. Menaikkan produksi? Hampir mustahil untuk saat ini.
Kerusakan di kawasan Teluk sendiri ternyata sangat serius. Serangan rudal dan drone beruntun telah melumpuhkan fasilitas-fasilitas kunci. Beberapa pejabat di sana mengaku, butuh waktu berbulan-bulan untuk kembali normal. Itu pun jika perang berhenti dan Selat Hormuz dibuka kembali besok. Proses pemulihannya tidak instan.
Meski begitu, ada secercah kabar baik. Iran, pada Sabtu lalu, menyatakan memberi pengecualian bagi Irak untuk melintasi selat itu. Dan benar saja, data pelayaran Minggu menunjukkan satu kapal tanker pengangkut minyak mentah Irak berhasil melintas. Tapi satu kapal tentu tidak cukup. Seorang sumber yang dekat dengan isu ini ragu. "Masih harus dilihat apakah lebih banyak kapal akan berani mengambil risiko yang sama," ujarnya. Situasinya masih sangat riskan.
Artikel Terkait
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan
BNI Lepas 99,9% Saham BNI Asset Management ke Danantara Rp359,64 Miliar
PLN Tegaskan Tidak Ada Pengembalian Dana untuk Token Listrik yang Salah Beli