OPEC+ Naikkan Kuota Produksi, Namun Gangguan di Selat Hormuz Hambat Realisasi

- Minggu, 05 April 2026 | 23:30 WIB
OPEC+ Naikkan Kuota Produksi, Namun Gangguan di Selat Hormuz Hambat Realisasi

Pertemuan OPEC yang digelar Minggu lalu menghasilkan keputusan yang cukup menarik. Tiga sumber yang mengetahui pembicaraan itu mengungkapkan, kelompok produsen minyak itu sepakat menaikkan kuota produksi sebesar 206 ribu barel per hari mulai Mei 2026. Tapi, jangan terlalu berharap dulu. Kenaikan ini, bagi banyak pengamat, cuma di atas kertas belaka. Kenyataannya di lapangan, situasinya jauh lebih rumit.

Perang antara AS–Israel dan Iran yang berkecamuk sejak akhir Februari telah memporak-porandakan banyak hal. Salah satu dampak paling krusial adalah penutupan Selat Hormuz. Jalur vital ini, yang biasa dilalui 20% minyak dunia, praktis macet total. Efeknya langsung terasa. Ekspor dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak yang sebelumnya masih punya kapasitas cadangan ikut terpangkas drastis.

Di sisi lain, anggota OPEC lainnya juga sedang tak berkutik. Ambil contoh Rusia. Negeri itu masih terkungkung sanksi Barat, ditambah lagi infrastrukturnya rusak parah akibat perang dengan Ukraina. Menaikkan produksi? Hampir mustahil untuk saat ini.

Kerusakan di kawasan Teluk sendiri ternyata sangat serius. Serangan rudal dan drone beruntun telah melumpuhkan fasilitas-fasilitas kunci. Beberapa pejabat di sana mengaku, butuh waktu berbulan-bulan untuk kembali normal. Itu pun jika perang berhenti dan Selat Hormuz dibuka kembali besok. Proses pemulihannya tidak instan.

Meski begitu, ada secercah kabar baik. Iran, pada Sabtu lalu, menyatakan memberi pengecualian bagi Irak untuk melintasi selat itu. Dan benar saja, data pelayaran Minggu menunjukkan satu kapal tanker pengangkut minyak mentah Irak berhasil melintas. Tapi satu kapal tentu tidak cukup. Seorang sumber yang dekat dengan isu ini ragu. "Masih harus dilihat apakah lebih banyak kapal akan berani mengambil risiko yang sama," ujarnya. Situasinya masih sangat riskan.

Pertemuan OPEC hari Minggu itu sendiri diawali dengan rapat Komite Pemantau Gabungan para Menteri (JMMC). Komite ini sebenarnya tidak punya kewenangan penuh untuk memutuskan kebijakan produksi. Setelahnya, delapan anggota inti OPEC menggelar pembicaraan terpisah dan akhirnya menyetujui angka kenaikan tadi. Angka 206 ribu barel itu sendiri bukan hal baru persis sama dengan kenaikan yang diputuskan untuk bulan April lalu, tepat ketika perang mulai berkobar.

Dan dampak perang ini sungguh luar biasa. Ini adalah gangguan pasokan minyak terburuk yang pernah disaksikan dunia. Sekitar 12 sampai 15 juta barel minyak hilang dari pasar setiap harinya. Angka itu setara dengan 15% dari pasokan global! Wajar saja harga minyak mentah melambung ke level tertinggi dalam empat tahun, nyaris menyentuh 120 dolar AS per barel.

Analis dari JPMorgan bahkan memberi peringatan lebih suram. Jika aliran melalui Selat Hormuz masih terhambat sampai pertengahan Mei, harga bisa melonjak di atas 150 dolar per barel. Itu akan memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa.

Jadi, apa arti kenaikan kuota ini? Sejumlah sumber di OPEC bilang, ini lebih ke sinyal politik. Sebuah pesan bahwa mereka siap meningkatkan produksi begitu Selat Hormuz kembali aman. Tapi untuk saat ini, itu hanya teori. Konsultan Energy Aspects dengan tepat menyebut langkah ini "bersifat di atas kertas". Selama konflik dan gangguan di selat itu berlanjut, semua rencana hanyalah angan-angan.

Pada akhirnya, pasar minyak dunia kini menggantungkan harapannya pada dua hal: diplomasi yang mengakhiri perang, dan keberanian para nahkoda kapal tanker untuk melintasi selat yang mencekam.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar