Pertemuan OPEC hari Minggu itu sendiri diawali dengan rapat Komite Pemantau Gabungan para Menteri (JMMC). Komite ini sebenarnya tidak punya kewenangan penuh untuk memutuskan kebijakan produksi. Setelahnya, delapan anggota inti OPEC menggelar pembicaraan terpisah dan akhirnya menyetujui angka kenaikan tadi. Angka 206 ribu barel itu sendiri bukan hal baru persis sama dengan kenaikan yang diputuskan untuk bulan April lalu, tepat ketika perang mulai berkobar.
Dan dampak perang ini sungguh luar biasa. Ini adalah gangguan pasokan minyak terburuk yang pernah disaksikan dunia. Sekitar 12 sampai 15 juta barel minyak hilang dari pasar setiap harinya. Angka itu setara dengan 15% dari pasokan global! Wajar saja harga minyak mentah melambung ke level tertinggi dalam empat tahun, nyaris menyentuh 120 dolar AS per barel.
Analis dari JPMorgan bahkan memberi peringatan lebih suram. Jika aliran melalui Selat Hormuz masih terhambat sampai pertengahan Mei, harga bisa melonjak di atas 150 dolar per barel. Itu akan memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa.
Jadi, apa arti kenaikan kuota ini? Sejumlah sumber di OPEC bilang, ini lebih ke sinyal politik. Sebuah pesan bahwa mereka siap meningkatkan produksi begitu Selat Hormuz kembali aman. Tapi untuk saat ini, itu hanya teori. Konsultan Energy Aspects dengan tepat menyebut langkah ini "bersifat di atas kertas". Selama konflik dan gangguan di selat itu berlanjut, semua rencana hanyalah angan-angan.
Pada akhirnya, pasar minyak dunia kini menggantungkan harapannya pada dua hal: diplomasi yang mengakhiri perang, dan keberanian para nahkoda kapal tanker untuk melintasi selat yang mencekam.
Artikel Terkait
Analis Prediksi Harga Minyak Bisa Tembus US$116 per Barel Pekan Depan
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan
BNI Lepas 99,9% Saham BNI Asset Management ke Danantara Rp359,64 Miliar