Jakarta - Pekan depan, pasar minyak dunia kemungkinan besar masih akan berwarna merah. Tren penguatan harga diprediksi bakal terus berlanjut. Pemicunya? Ketegangan geopolitik global yang makin panas dan mengancam pasokan energi ke berbagai penjuru.
Analis Keuangan Ibrahim Assuaibi melihat potensi kenaikan yang cukup signifikan. Bahkan, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) disebut-sebut berpeluang menembus angka 116 dolar AS per barel. Angka yang cukup fantastis, bukan?
"Pasar saat ini sangat sensitif terhadap isu geopolitik. Sedikit saja ada eskalasi, harga minyak langsung merespons naik," ucap Ibrahim.
Memang, sentimen utama datang dari Timur Tengah. Eskalasi konflik di kawasan itu, yang melibatkan negara dan kelompok milisi, bikin semua orang waswas. Kekhawatiran terbesar adalah stabilitas distribusi minyak global, yang bisa saja terganggu kapan pun.
Ibrahim menegaskan, risiko gangguan itu sangat nyata.
"Ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur distribusi energi, terutama di kawasan strategis seperti Selat Hormuz. Jika itu terjadi, harga minyak bisa melonjak signifikan," katanya dalam keterangan pada Minggu (5/4/2026).
Artikel Terkait
OPEC+ Naikkan Kuota Produksi, Namun Gangguan di Selat Hormuz Hambat Realisasi
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan
BNI Lepas 99,9% Saham BNI Asset Management ke Danantara Rp359,64 Miliar