Hari Minggu (5/4) yang cerah di Bantul, Yogyakarta, menjadi saksi pertemuan hangat antara Ahmad Muzani, Ketua MPR RI, dengan Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah. Kunjungan ini, kata Muzani, tak lain adalah untuk bersilaturahmi dan halalbihalal, mengingat mereka belum sempat bertemu selama suasana Idul Fitri.
"Ya hari ini kami bersilaturahmi kepada Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Profesor Haedar Nashir," ujar Muzani kepada para wartawan yang menunggu di Yogyakarta.
Ia melanjutkan, "Pertama, ini masih dalam suasana Lebaran. Saya belum bertemu beliau dan Ibu Haedar. Jadi, hari ini saya berkunjung ke Jogja khusus untuk bersilaturahmi dan menyampaikan minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin."
Namun begitu, obrolan mereka ternyata tidak hanya seputar ucapan selamat. Muzani mengaku pertemuan itu juga membahas hal-hal yang lebih luas dan mendalam.
"Kedua, dalam silaturahmi tadi kami banyak bicara tentang persoalan kenegaraan, situasi geopolitik, dan persoalan-persoalan lain," jelasnya. Menurutnya, diskusi itu berjalan lancar. "Saya kira tadi kami cukup banyak berbincang dengan beliau. Nyambung pemikiran, nyambung silaturahmi, dan nyambung diskusi tentang beberapa hal penting tersebut."
Sebelum berangkat ke Yogyakarta, Muzani rupanya telah memberi tahu Presiden Prabowo Subianto. Dari Prabowo, ada pesan khusus yang ia bawa.
"Saya menyampaikan kabar ini kepada beliau bahwa saya akan berkunjung ke Yogyakarta," kata Muzani. "Dan beliau menyampaikan salam hormat kepada tokoh-tokoh, para ulama, para pimpinan pondok pesantren yang akan kami kunjungi, termasuk kepada Prof Haedar dan Ibu Haedar. Saya sampaikan itu."
Di sisi lain, Haedar Nashir tampak menghargai kunjungan dan silaturahmi tersebut. Dalam pertemuan yang berlangsung di kediamannya itu, ia mengungkapkan satu poin krusial yang menjadi bahan diskusi mereka.
"Dalam menghadapi geopolitik global itu kami mendiskusikan bahwa modal terkuat kita adalah persatuan," tegas Haedar Nashir.
Ia percaya, dengan persatuan, Indonesia akan mampu menghadapi dinamika politik global seberat apa pun. Keyakinannya juga tertuju pada kepemimpinan nasional.
"Kami percaya bahwa Presiden Prabowo dengan semangat konstitusional dan menjaga kedaulatan Indonesia akan membawa Indonesia pada prinsip-prinsip kemerdekaan, keadilan, dan keadaban atau kemanusiaan yang beradab di dalam membawa orientasi politik global, termasuk membela Palestina," imbuhnya.
Pertemuan yang berawal dari halalbihalal itu pun berakhir dengan pembahasan yang menyentuh inti persoalan bangsa dan dunia. Sebuah percakapan yang menunjukkan, silaturahmi bisa menjadi jembatan untuk hal-hal yang lebih substantif.
Artikel Terkait
Api Kembali Muncul di Tambora Usai Kebakaran 27 Rumah, 8 Mobil Damkar Dikerahkan
Kebakaran di Tambora Hanguskan 27 Rumah, 250 Warga Mengungsi
Pemprov DKI Buka Pendaftaran SPMB Bersama untuk SMP-SMK Swasta Tahun Ajaran 2026/2027
KPK Terbitkan Surat Edaran Antigratifikasi dan Pungli dalam Penerimaan Murid Baru