Mantan Menhan AS Kritik Kebijakan Iran Trump Sebabkan Krisis Energi Global

- Selasa, 24 Maret 2026 | 12:35 WIB
Mantan Menhan AS Kritik Kebijakan Iran Trump Sebabkan Krisis Energi Global

Sudah tiga minggu perang dengan Iran berkecamuk. Di tengah situasi yang makin pelik, suara kritis datang dari dalam negeri Amerika sendiri. Leon Panetta, mantan Menteri Pertahanan sekaligus eks Direktur CIA, tak ragu menyoroti kebingungan Gedung Putih. Menurutnya, Donald Trump kini terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama buruk. Yang lebih parah, pesan yang terkirim ke dunia internasional justru adalah sinyal kelemahan.

Panetta, yang pernah mengabdi di era Clinton dan Obama, geram. Apa yang dilakukan Trump di Iran ini, dalam pandangannya, sama sekali bukan cerminan kepemimpinan seorang presiden.

"Dia itu cenderung naif soal bagaimana sesuatu bisa terjadi," ujar Panetta yang kini berusia 87 tahun.

Lewat sambungan telepon, pria yang dulu mengawasi operasi pemburuan Osama bin Laden itu melanjutkan kritiknya. "Kalau dia mengucapkan sesuatu terus-terusan, seolah ada harapan ucapannya akan jadi kenyataan. Itu yang dilakukan anak-anak. Bukan presiden."

Perang ini bermula dari serangan mendadak Israel akhir Februari lalu, yang berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Trump mungkin mengira itu akan jadi pukulan telak yang langsung memenangkan segalanya. AS dan Israel pun cepat merebut keunggulan udara. Namun begitu, konflik yang berlarut-larut justru berbalik arah. Inisiatif awal itu pelan-pelan lepas kendali.

Korban jiwa berjatuhan di kedua belah pihak. Di pihak AS, tiga belas anggota militernya tewas. Sementara pejabat kesehatan Iran menyebut angka kematian warganya lebih dari 1.400 orang. Khamenei yang tewas langsung digantikan oleh putranya sendiri, Mojtaba Khamenei.

Di dalam negeri, Trump kesulitan membangun narasi kemenangan. Harga minyak melambung tinggi, angka elektabilitasnya merosot, dan koalisi pendukungnya mulai retak. Dia pun kerap marah dengan pemberitaan media. Sinyal yang dikirimkannya tentang tujuan perang atau kapan "ekskursi"-nya akan berakhir terlihat kacau dan tidak konsisten.

Panetta melihat ini sebagai sebuah blunder strategis yang mahal harganya.

"Kita mengganti pemimpin lama yang sebenarnya sudah sekarat, di saat rakyat Iran sendiri sudah muak dan siap turun ke jalan untuk mengubah pemerintahan mereka. Hasilnya? Malah dapat rezim yang lebih mapan. Pemimpin barunya lebih muda dan diprediksi akan berkuasa lama. Gaya politiknya juga jauh lebih keras ketimbang ayahnya. Situasinya justru memburuk," paparnya.

Balasan rezim baru Iran itu telak. Mereka berhasil memblokir Selat Hormuz secara efektif, yang langsung membuat pasar energi global gonjang-ganjing. Padahal, seperlima pasokan minyak dunia harus melalui selat sempit itu. Krisis energi yang sejak dulu diantisipasi oleh para ahli keamanan nasional AS, kini benar-benar terjadi.

Bagi sang mantan menteri, ini adalah krisis buatan Trump sendiri. Menurutnya, bukan hal yang rumit untuk dipahami. "Kalau Anda memutuskan berperang dengan Iran, salah satu titik rawan utamanya ya Selat Hormuz itu. Penutupan selat bisa memicu krisis minyak besar-besaran dan melambungkan harga bahan bakar," tandas Panetta.

Kini, pilihan yang tersisa bagi Trump, selain angan-angan, tampaknya semakin sedikit.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar