Keterangan mengejutkan terungkap dari pengakuan sopir taksi online Green SM yang terlibat dalam insiden kecelakaan beruntun di perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur. Kepada pihak kepolisian, sopir tersebut mengaku bahwa kendaraan yang dikemudikannya tiba-tiba mati mesin saat melintasi rel, dan pintu mobil tidak dapat dibuka dari dalam.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengungkapkan bahwa sopir tersebut ternyata masih sangat baru dalam pekerjaannya. “Keterangan sopir bahwa yang bersangkutan baru beberapa hari bekerja di taksi online tersebut, mendaftar, melamar, dan dinyatakan lulus. Diperkenalkan selama satu hari tentang operasional penggunaan unit mobil yang akan dibawa,” ujarnya kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jumat (8/5/2026).
Menurut Kombes Budi, kronologi kejadian bermula ketika mobil yang dikendarai sopir tiba-tiba mati di perlintasan sebidang rel. Saat sopir berusaha keluar, pintu tidak bisa dibuka dan transmisi persneling secara otomatis berpindah ke posisi parkir. “Pada saat dibawa, itu kendaraan mati di perlintasan sebidang jalur rel kereta api. Pada saat supir ingin keluar membuka pintu, tetapi tidak bisa. Transmisi berpindah ke parking,” paparnya.
Dalam situasi darurat tersebut, sopir kemudian mencoba mematikan mesin mobil dan berhasil menurunkan kaca jendela. Ia akhirnya keluar melalui jendela sisi pengemudi dengan bantuan warga sekitar. “Pada saat yang bersangkutan mencoba untuk mematikan kendaraan, membuka, baru bisa menurunkan kaca mobil dari taksi online. Sehingga supir ini bisa keluar selamat dari kendaraan itu dibantu oleh warga sekitar melalui jendela mobil bagian supir,” jelas Kombes Budi.
Sementara itu, penyebab pasti matinya mesin mobil taksi tersebut masih menjadi misteri. Kombes Budi menyatakan bahwa pihaknya masih mendalami kemungkinan adanya pengaruh medan magnet atau medan listrik terhadap kendaraan. “Nah, ini masih didalami apakah ini dampak pengaruh dari medan magnet, medan listrik terhadap kendaraan mobil taksi online. Ini masih didalami oleh Puslabfor, begitu juga masih didalami oleh KNKT. Secara paralel, tim ini masih bekerja untuk mendalami,” katanya.
“Kami minta teman-teman untuk bisa bersabar, kami akan meng-update terkait tentang informasi hasil dari Puslabfor termasuk dari KNKT,” tutup Kombes Budi.
Kasus kecelakaan ini sendiri telah dinaikkan ke tahap penyidikan setelah ditemukannya unsur pidana dalam gelar perkara. Pihak kepolisian masih melakukan serangkaian pendalaman untuk mengungkap fakta di balik peristiwa nahas tersebut.
Sebagaimana diketahui, kecelakaan bermula saat KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam. Peristiwa itu menyebabkan 16 orang meninggal dunia dan 90 orang lainnya mengalami luka-luka. Dalam rangkaian kejadian tersebut, taksi Green SM sempat terhenti di tengah rel kereta api yang tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur karena masalah korsleting, kemudian tertemper KRL yang melaju dari Cikarang ke arah Jakarta. KRL yang terlibat kecelakaan dengan taksi itu kemudian terhenti di tengah rel.
Di sisi lain, ada KRL arah Cikarang yang terhenti di Stasiun Bekasi Timur imbas insiden antara KRL arah Jakarta dan taksi Green SM. KRL yang terhenti di Stasiun Bekasi Timur inilah yang kemudian ditabrak oleh KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah Jakarta.
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Pelaku Ganjal ATM di Sentul, Amankan 41 Kartu dan Tusuk Gigi
Ribuan Jemaah Haji Indonesia Mulai Bertolak ke Makkah, Ambil Miqat di Bir Ali
12 Korban Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi Timur Masih Dirawat Intensif
Ibas Nilai BSPS dan Makan Bergizi Gratis Jadi Motor Ekonomi Desa