Situ Jakarta Menyusut Drastis, DPRD DKI Desak Revitalisasi Cegah Bom Waktu Banjir

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 06:45 WIB
Situ Jakarta Menyusut Drastis, DPRD DKI Desak Revitalisasi Cegah Bom Waktu Banjir

Bicara soal banjir Jakarta, isu situ yang menyusut drastis kembali mencuat. Wibi Andrino, Wakil Ketua DPRD DKI dari Fraksi NasDem, menyoroti data yang cukup mencengangkan: dari yang dulu jumlahnya mencapai ribuan, kini situ di Ibu Kota cuma tersisa sekitar 200-an saja. Menurutnya, Pemprov DKI harus segera bertindak. Revitalisasi dan normalisasi situ-situ yang tersisa itu sudah nggak bisa ditunda lagi.

"Dari sudut pandang DPRD DKI, kami sepakat banjir Jakarta tidak bisa dilihat semata karena hujan ekstrem," tegas Wibi kepada awak media, Sabtu (24/1/2026).

Dia menjelaskan, situ punya peran krusial. Tanpa kehadirannya yang berfungsi optimal, daya tampung air di kawasan Jabodetabek otomatis merosot. Alhasil, risiko banjir di Jakarta makin tinggi dari tahun ke tahun seperti bom waktu yang siap meledak setiap musim hujan tiba.

"Hilangnya situ dan ruang resapan di Jabodetabek adalah faktor struktural yang serius. Situ seharusnya menjadi penyangga alami air, tapi banyak yang menyusut, dangkal, bahkan beralih fungsi," ujarnya.

Wibi pun mendesak adanya langkah tegas dan terkoordinasi, nggak cuma di lingkup Jakarta. Kerja sama dengan pemerintah daerah penyangga dan pusat harus diperkuat.

"Ke depan, perlu langkah tegas lintas wilayah, inventarisasi dan penyelamatan situ yang tersisa, normalisasi dan revitalisasi situ, penertiban alih fungsi lahan, serta penguatan kerja sama antara Pemprov DKI, pemerintah daerah penyangga, dan pemerintah pusat," tuturnya.

"Tanpa itu, upaya pengendalian banjir di Jakarta akan selalu bersifat tambal sulam, bukan solusi jangka panjang," imbuh dia.

Pernyataan Wibi ini sejalan dengan perhatian yang baru-baru ini disampaikan dari Istana. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memang menyoroti persoalan banjir yang kerap melanda Jakarta. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengakui bahwa masalahnya nggak sesederhana curah hujan tinggi.

"Tentunya itu hanya salah satu ya, faktor cuaca tingginya curah hujan di bulan basah akhir Januari ini memang cukup tinggi, tetapi kita tentu menyadari bahwa ini tidak sekedar faktor cuaca. Ini bagaimana perubahan tata ruang juga di situ berpengaruh, bagaimana pendangkalan-pendangkalan aliran daerah-daerah aliran sungai itu juga berpengaruh," kata Pras Hadi di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (22/1).

Dia mengungkap data yang cukup memprihatinkan. Jakarta konon pernah punya sekitar seribu situ yang berfungsi sebagai titik resapan. Kini? Jumlahnya tinggal seperlima, sekitar 200 saja. Itulah yang jadi perhatian utama Prabowo.

Intinya, pemerintah ingin menyelesaikan banjir ini sampai ke akar-akarnya. Bukan sekadar respons darurat, tapi mencari solusi yang bertahan untuk jangka panjang. Soalnya, kalau cuma mengandalkan normalisasi sungai atau pompa, ya ujung-ujungnya kita akan terjebak dalam siklus yang sama. Banjir datang, ditangani, lalu datang lagi di tahun berikutnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar