Kapolda Riau Beri Nama Anak Gajah Sumatera ‘Nona Seroja’, Simbol Harapan Konservasi di Tesso Nilo

- Kamis, 11 Juni 2026 | 15:45 WIB
Kapolda Riau Beri Nama Anak Gajah Sumatera ‘Nona Seroja’, Simbol Harapan Konservasi di Tesso Nilo

Seekor anak gajah Sumatera yang baru lahir di Camp Flying Squad, Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Pelalawan, Riau, resmi diberi nama “Nona Seroja” oleh Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan. Nama tersebut tidak dipilih secara sembarangan, melainkan melalui proses perenungan panjang yang sarat makna filosofis.

Dalam acara syukuran sederhana yang digelar di kawasan Tesso Nilo pada Kamis (11/6/2026), Irjen Herry mengungkapkan bahwa dirinya terlebih dahulu meminta izin kepada Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, untuk memberikan nama bagi anak gajah dari induk bernama Ria itu. Menteri pun menyambut baik usulan tersebut. Hadir dalam kesempatan itu Kepala Balai TNTN, Heru Sutmantoro, beserta para mahout atau pawang gajah.

“Alhamdulillah, beliau berkenan menyetujui nama yang kami usulkan, yaitu ‘Nona Seroja’,” ujar Irjen Herry.

Pemilihan nama itu merupakan hasil urun rembug antara Kapolda, Kepala Biro SDM Polda Riau Kombes Boy Jeckson Situmorang, serta seluruh pejabat utama Polda Riau. Lebih dari sekadar nama, “Nona Seroja” lahir dari kontemplasi yang memiliki filosofi mendalam.

“Seroja adalah bunga yang tumbuh dari lingkungan yang keruh, namun mampu mekar dengan indah dan tetap menjaga kemurniannya,” jelas Irjen Herry.

Jenderal bintang dua itu menambahkan, filosofi tersebut menggambarkan kondisi Tesso Nilo saat ini. Di tengah berbagai tantangan yang membayangi kawasan konservasi, kelahiran seekor anak gajah menjadi bukti bahwa kehidupan baru masih mungkin hadir.

“Karena itu, kehadiran Nona Seroja kami maknai sebagai simbol kemurnian, ketahanan, keindahan, dan harapan bagi kita semua. Ia mengingatkan kita pada tanggung jawab terhadap seluruh makhluk hidup dan lingkungan yang terdegradasi,” tuturnya.

Kelahiran Nona Seroja, menurut Kapolda, juga menjadi pengingat bahwa menjaga alam dan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. “Menjaga Tesso Nilo berarti menjaga warisan alam yang akan kita tinggalkan untuk generasi mendatang,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Irjen Herry mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berkolaborasi dalam menjaga kelestarian Tesso Nilo. Menurutnya, dibutuhkan kerja sama seluruh pemangku kepentingan sesuai dengan konsep pentaheliks. “Seluruh ikhtiar ini pada akhirnya bermuara pada satu tujuan yang sama, yaitu memastikan Tesso Nilo tetap lestari,” katanya.

Lebih jauh, jenderal yang akrab disapa Herimen itu menekankan bahwa Tesso Nilo bukan sekadar hutan tempat satwa liar. Kawasan ini, menurut dia, adalah saksi atas pilihan yang diambil setiap manusia: apakah memilih menjaganya atau membiarkannya hilang.

“Oleh karena itu, menjaga Tesso Nilo sesungguhnya bukan hanya tentang melindungi satwa liar dan habitatnya, melainkan tentang memastikan bahwa warisan alam yang kita terima hari ini tetap terjaga untuk generasi yang akan datang,” paparnya.

Kehadiran Nona Seroja di Tesso Nilo, kata Herimen, memberikan pesan sederhana namun mendalam: bahwa di tengah berbagai tantangan konservasi, harapan masih ada. “Semoga Nona Seroja tumbuh sehat, kuat, dan kelak menjadi simbol keberhasilan kita bersama dalam menjaga kelestarian gajah Sumatera serta masa depan Taman Nasional Tesso Nilo,” pungkasnya.

Prosesi penamaan anak gajah tersebut dibarengi dengan syukuran kecil berupa tumpengan yang dihadiri para mahout dari TNTN.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags