Mentan Tantang Unesa Ciptakan Benih Kedelai Produktivitas 5-6 Ton per Hektare

- Selasa, 28 Juli 2026 | 00:00 WIB
Mentan Tantang Unesa Ciptakan Benih Kedelai Produktivitas 5-6 Ton per Hektare

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menantang Universitas Negeri Surabaya (Unesa) untuk menghasilkan benih kedelai unggul dengan produktivitas 5-6 ton per hektare. Tantangan itu disampaikan saat menerima jajaran pimpinan Unesa di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (27/7/2026).

Tantangan ini langsung dikaitkan dengan percepatan swasembada kedelai nasional di tengah upaya menekan ketergantungan terhadap impor. Amran menegaskan pemerintah siap memfasilitasi hasil riset perguruan tinggi jika varietas yang dikembangkan terbukti kuat di lapangan.

"Kalau benihnya bagus dan hasilnya terbukti, kita akan dorong untuk dikembangkan secara nasional. Yang kita cari sekarang adalah inovasi yang mampu meningkatkan produktivitas petani," ujar Amran.

Target 5-6 ton per hektare menjadi ambang penting karena dapat menjadi pijakan baru bagi produksi kedelai nasional. Bagi Kementan, kolaborasi dengan kampus dibutuhkan agar pencarian benih unggul tidak berhenti di laboratorium, melainkan berlanjut ke model budidaya yang bisa dipakai petani.

"Tidak mungkin pemerintah bekerja sendiri. Kampus harus menjadi pusat inovasi, TNI dan Polri membantu pendampingan di lapangan, sementara petani menjadi pelaku utama. Kalau semua bergerak bersama, saya optimistis swasembada kedelai bisa kita wujudkan," tegasnya.

Unesa Siapkan Jawaban di Lahan Uji

Wakil Rektor IV Unesa Dwi Cahyo Kartiko mengatakan kampusnya siap menjawab tantangan itu dengan fokus pada penyediaan benih kedelai unggul. Ia menyebut Kementan memasang target yang sangat jelas, yakni produktivitas 5-6 ton per hektare di lahan percontohan 56 hektare agar keberhasilannya bisa dijadikan model pengembangan nasional.

"Kami menyampaikan kepada Pak Menteri bahwa apabila benih unggul itu berhasil dikembangkan, kami siap mengawal implementasinya. Pak Menteri juga menyampaikan bahwa apabila produktivitas di lahan 56 hektare mampu mencapai 5 hingga 6 ton per hektare, maka keberhasilan tersebut dapat menjadi model pengembangan kedelai nasional," ujar Dwi.

Unesa datang ke pertemuan itu dengan bekal pengalaman mendampingi program ketahanan pangan lain. Dwi menjelaskan kampusnya sebelumnya ikut mengawal pengembangan jagung bersama Polda Jawa Timur selama tiga bulan, meski Fakultas Ketahanan Pangan Unesa baru berdiri pada 2025.

"Fakultas Ketahanan Pangan kami memang baru berdiri pada 2025, tetapi kami mampu mengawal program dengan sangat baik. Dari keberhasilan itu, kami kembali dipercaya untuk mendukung pengembangan komoditas pangan strategis," katanya.

Tantangan Benih untuk 600 Hektare di Tuban

Menurut Dwi, kepercayaan itu kini berlanjut ke pengembangan kedelai melalui kemitraan dengan Yonif TP 932 Sunan Bonang Tuban yang sudah menyiapkan sekitar 600 hektare lahan. Karena itu, titik paling krusial saat ini adalah menghadirkan benih yang benar-benar mampu mencapai target produktivitas yang diminta pemerintah.

"Yang menjadi tantangan bagi kami adalah penyediaan benih. Karena itu kami memohon arahan Pak Menteri agar kemitraan dengan Yonif 932/Sunan Bonang Tuban dapat berjalan optimal sehingga pengembangan kedelai di lahan tersebut berhasil," ujarnya.

Selain menyiapkan implementasi lapangan, Unesa juga mengaku telah menyerahkan proposal penelitian untuk memperkuat riset ketahanan pangan. Dwi mengatakan tim peneliti, terutama dari Fakultas Ketahanan Pangan, kini mengarahkan sumber daya akademik pada pencarian benih kedelai unggul yang paling sesuai dengan target produktivitas.

"Ini menjadi pekerjaan rumah sekaligus tantangan besar bagi kami. Kami akan mencari benih yang terbaik agar mampu menghasilkan produktivitas sesuai target yang diberikan Pak Menteri," katanya.

Dwi menargetkan proses pencarian dan penyiapan benih unggul itu dapat diselesaikan pada 2026 agar segera masuk tahap uji lapangan. "Insya Allah tahun ini kami tuntaskan proses pencarian dan penyiapan benih unggul. Tantangan dari Pak Menteri akan kami jawab melalui riset dan inovasi yang nyata untuk mendukung swasembada kedelai Indonesia," ujarnya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags