Polsek Menteng membantah narasi yang beredar di media sosial bahwa bentrokan antar dua kelompok di Jalan Tambak, Jakarta Pusat, pada Minggu (26/7) dipicu oleh kelompok etnis Ambon yang tidak membayar nasi uduk. Kapolsek Menteng AKBP Braiel Arnold Rondonuwu juga membantah adanya perusakan masjid oleh kelompok tersebut saat bentrokan terjadi.
Pernyataan itu disampaikan Braiel usai memeriksa sejumlah orang, termasuk advokat dari kelompok Ambon, di Polsek Menteng pada Minggu malam. Menurutnya, pemilik gerobak nasi uduk mengakui tidak ada pembelian dari kelompok tersebut. "Berdasarkan keterangan dari pedagang nasi uduk di Matraman atau Pegangsaan, bahwa tidak ada dari rekan-rekan yang membeli atau tidak membayar. Karena sebetulnya yang terjadi, rekan-rekan kami dari pihak Timur, saudara-saudara kami yang dari Ambon ini, tidak ada membeli nasi uduk," ucap Braiel. "Jadi tidak ada kejadian bahwa dia membeli nasi uduk dan tidak membayar, karena mereka tidak membeli nasi uduk. Sepengetahuan dari penjual nasi uduk, mereka membeli bubur. Itu yang perlu saya sampaikan terkait isu-isu yang beredar," tambahnya.
Terkait narasi perusakan masjid, Braiel memastikan tidak ada kerusakan berdasarkan kesaksian pengurus masjid. "Kami sudah bertemu dengan ustaz di Masjid Jami Matraman dan melakukan klarifikasi bahwa tidak ada terjadi perusakan terhadap rumah ibadah yang dilakukan oleh saudara-saudara kita dari Timur," tuturnya.
Klarifikasi Advokat
Advokat kelompok Ambon yang juga Sekjen Dewan Pimpinan Nasional Persaudaraan Timur Indonesia Raya (PETIR), Nefton Alfares, turut membantah narasi tersebut. "Sekali lagi saya merespons apa yang disampaikan Pak Kapolsek tadi, bahwa itu tidak benar," ucap Nefton di kesempatan yang sama.
Menurutnya, peristiwa itu terjadi setelah kliennya menyalakan motor seusai makan bubur di lokasi dekat pedagang nasi uduk. Motor itu kebetulan bising, sehingga ada yang menegur. Terjadilah cekcok setelah teguran itu. "Pemicunya adalah ada orang yang sedang duduk di nasi uduk, kemudian saudara-saudara kami kebetulan menyalakan motor dan bunyi motor itu dianggap bising oleh warga yang duduk di nasi uduk, sehingga terjadilah cekcok mulut di situ," jelas dia.
Ia memastikan seluruh narasi yang beredar, termasuk tak bayar nasi uduk dan perusakan masjid, tidak benar. "Informasi yang berkembang di luar sana itu informasi bohong semua. Saudara kami tidak pernah makan nasi uduk dan tidak membayar, bahkan membeli pun tidak. Hanya karena kebetulan mereka menyalakan motor dan dianggap bising, lalu direspons oleh yang duduk di nasi uduk," ujarnya.
Nefton pun meminta agar semua pihak yang terlibat ditangkap. Menurutnya, dua orang dari kelompok Ambon terluka. "Semua yang teridentifikasi di dalam video, kami minta semuanya ditangkap! Karena itu pelaku murni yang mengakibatkan dua orang saudara kami menjadi korban. Kami meminta hukum benar-benar ditegakkan. Jangan ketika kami orang Timur yang melakukan dugaan kriminal diuber sampai ke hutan-hutan, tetapi ketika dilakukan oleh warga lain terkesan ada pembiaran," tandasnya.
Artikel Terkait
Polisi Pengemudi Alphard Bersujud Minta Maaf pada Sekuriti Fiktor Harefa
Polisi Bantah Ada Pemukulan Saat Mediasi Satpam dan Sopir Alphard
Polisi Buka Peluang Laporan Kasus Sopir Alphard Terobos Lampu Merah di Bundaran HI
Cekcok di Bundaran HI Berakhir Damai, Pengemudi Alphard dan Satpam Saling Memaafkan