Emil Salim Terima Lifetime Achievement Kalpataru, Minta Laut Jadi Sumber Kehidupan Bukan Objek Eksploitasi

- Kamis, 11 Juni 2026 | 15:35 WIB
Emil Salim Terima Lifetime Achievement Kalpataru, Minta Laut Jadi Sumber Kehidupan Bukan Objek Eksploitasi

Tokoh lingkungan hidup dan ekonom senior, Emil Salim, menerima Penghargaan Lifetime Achievement Kalpataru pada Kamis, 11 Juni 2026, di Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan pesan tegas kepada Kementerian Lingkungan Hidup agar laut Indonesia tidak menjadi sasaran perusakan.

Emil mengawali pidatonya dengan menyoroti krisis air minum yang kini menjadi tantangan global. Menurutnya, Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki karakteristik geografis yang berbeda dengan benua Eropa atau Amerika yang daratannya luas dan lautan relatif kecil. Sebaliknya, Indonesia justru dikelilingi lautan yang sangat luas.

“Dewasa ini kita mengalami masalah lingkungan yang menghadapi tantangan besar di mana air minum menjadi permasalahan yang cukup serius. Tanah air Indonesia adalah negara kepulauan. Bumi Eropa, Amerika, adalah bumi yang luas dan lautannya kecil. Indonesia adalah kepulauan yang lautannya besar,” ujar Emil.

Ia menjelaskan bahwa sumber daya air minum Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada air tanah yang jumlahnya terbatas. Padahal, laut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber air minum alternatif. “Tanah adalah tempat kita hidup. Air yang kita minum, air tanah. Tetapi lautan belum kita kembangkan sebagai sumber air minum. Yang kita minum, air tanah dan tanah kita terbatas,” katanya.

Emil kemudian menekankan perlunya perubahan paradigma dalam memandang laut. “Maka, kalau tanah air Indonesia, tidak bisa mengacu hanya di mana tanah adalah objek, di mana air adalah objek, tetapi bagaimana laut juga menjadi subjek, di mana tanah menjadi subjek,” sambungnya.

Pada momen yang sama, ia menyampaikan pesan agar Kementerian Lingkungan Hidup berkoordinasi dengan kementerian lain untuk memastikan laut tidak dieksploitasi secara berlebihan. “Maka, jika laut belum menjadi sumber kehidupan kita, negara kepulauan, Bapak Menteri Lingkungan Hidup perlu mengajak Menteri Kelautan, Menteri Perikanan, menteri semua yang memakai laut menjadi sumber kehidupan kita. Jangan laut menjadi objek dari kehidupan kita,” tegasnya.

“Jadi, Menteri Lingkungan Indonesia perlu mengembangkan laut sebagai sumber kehidupan, air laut sebagai sumber kehidupan. Bapak Menteri, saya mohon bantuan Bapak. Bisakah kita membangun Republik Indonesia tanpa merusak laut? Dalam kaitan ini, semua menteri yang ada, Menteri Perindustrian, Menteri Pertanian, Menteri Pekerjaan Umum, melihat laut bukan sebagai subjek, tapi objek,” lanjut Emil.

Menanggapi pesan tersebut, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyatakan setuju dan mengapresiasi masukan dari Emil Salim. “Pak Emil betul sekali, bahwa kita bertanggung jawab untuk semua pembangunan setiap senti, ya, di manapun wilayah Indonesia, karena untuk memastikan agar lingkungan hidup. Karena itu semangat dari Pak Emil, dukungan Pak Emil kepada kami, kepada saya pribadi, insyaallah menjadi energi besar untuk memastikan mengawal lingkungan ini dengan baik,” ujar Jumhur.

Jumhur menambahkan bahwa kementeriannya telah melakukan berbagai upaya untuk membersihkan laut, termasuk menangani sampah laut secara serius. “Soal laut tentu kita lagi kerja keras untuk itu dan sampah-sampah laut sekarang sudah mulai kita serius, marine debris. Bahkan kita punya kerja sama internasional untuk itu, dan insyaallah edukasi dari masyarakat-masyarakat yang di pantai, maksudnya di pedalaman yang membuang sampahnya ke sungai, yang bisa membangun pulau plastik di osean itu. Kita mulai di apa, kita ajari dari hulunya,” imbuhnya.

Dalam ajang penghargaan Kalpataru 2026, tercatat 16 orang dan kelompok yang menerima penghargaan. Emil Salim menjadi satu-satunya penerima Lifetime Achievement Award. Para pemenang lainnya tersebar dalam sejumlah kategori, antara lain Kategori Perintis yang diraih Ananto Isworo dari DI Yogyakarta, Wibi Nugraha dari Sumatera Utara, dan Jamaluddin dari Sulawesi Selatan. Kategori Pengabdi diberikan kepada Abdul Hadi dari Aceh serta Taufik Ismail dari Kalimantan Timur. Kategori Penyelamat dimenangkan oleh Pejuang Muda Wida to Cerekang dari Sulawesi Selatan dan Yayasan Pelestarian Flora & Fauna Bangka Belitung. Sementara itu, Kategori Pembina diraih oleh Komang Astika dari Bali, Miswanto dari Kepulauan Riau, dan Shanty Meta Febrinalisa dari DKI Jakarta.

Pada Kalpataru Yuvan, penghargaan diberikan kepada Marsella Wahyu Muntia dari Jawa Tengah. Adapun Kalpataru Lestari diterima oleh Bening Saguling Foundation dari Jawa Barat, Agus Bei dari Kalimantan Timur, Kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih dari Bali, serta Kelompok Tani Sadar Sendiri dari Papua.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar