Mendung masih menggantung di langit Aceh Tamiang ketika Muhammad Tito Karnavian turun langsung melihat kondisi para pengungsi. Sebagai Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, kunjungannya ke Kabupaten ini punya satu tujuan utama: memastikan penanganan warga, terutama yang masih bertahan di tenda, benar-benar berjalan cepat.
Ia menyambangi tiga desa di Kecamatan Sekerak: Lubuk Sidup, Tanjung Gelumpang, dan Sekumur. Di sana, Tito tak sekadar melihat, tapi juga berbincang dengan warga yang terdampak.
Angka pengungsi, menurutnya, sudah jauh berkurang. Bayangkan, dari sekitar 2,1 juta jiwa yang tercatat mengungsi di tiga provinsi pasca bencana akhir November 2025 lalu, kini jumlahnya menyusut drastis. Hanya tersisa sedikit yang masih membutuhkan perhatian khusus.
"Yang pemerintah sampaikan adalah [pengungsi yang sudah tidak tinggal di tenda] mendekati 100 persen. Kenapa? Kita hitung lebih kurang sekira-kira katakanlah 300 KK (Kepala Keluarga) lebih kurang misalnya 1.000 pengungsi, dibanding dengan awalnya 2,1 juta jiwa, itu sudah 99 persen lebih [yang tidak lagi di tenda]," jelas Tito dalam keterangan tertulis, Sabtu (4/4/2026).
Meski relatif sedikit, kata dia, perhatian untuk mereka yang tersisa di Aceh Tamiang dan Bireuen tidak akan dikurangi. Di Bireuen, misalnya, pembangunan hunian tetap atau huntap sudah mulai digarap.
"Kemudian yang masuk ke daerah Sekerak ini, yang desa-desa saya sebutkan tadi, saya mau lihat satu per satu, dan kemudian bagaimana penyelesaiannya," tegasnya.
Di Sekumur dan desa lainnya, Tito mengecek progres hunian sementara (huntara). Ia tampak optimis pembangunannya bisa segera selesai. Kendalanya? Akses jalan yang rusak akibat longsor memang jadi tantangan tersendiri di wilayah dengan kondisi geografis seperti ini.
Artikel Terkait
Ragunan Catat 36.880 Pengunjung di Hari Kedua Long Weekend Paskah
Hujan Deras Picu Banjir dan Longsor di Sejumlah Kawasan Tangsel
Pakar Hukum Internasional UGM Tegaskan Serangan terhadap Pasukan Perdamaian PBB adalah Kejahatan Perang
Iran Ancam Serang Ibu Kota Sekutu AS di Teluk Jika Pangkalan Militer Tak Dievakuasi