Namun begitu, mereka mengingatkan bahwa rally ini masih digerakkan sentimen dan likuiditas semata. Keberlanjutannya sangat bergantung pada perkembangan geopolitik selanjutnya dan arus dana asing yang masuk.
Di sisi lain, ada faktor penentu lain yang bikin investor was-was: pengumuman dari FTSE dan MSCI pada April-Mei nanti. Kabar dari MSCI di awal tahun soal investabilitas Indonesia sempat mengguncang pasar dan memicu kekhawatiran besar akan arus keluar dana asing.
JP Morgan dalam laporannya mencatat, IHSG telah turun sekitar 21 persen dari puncaknya hingga 30 Maret lalu, didorong kekhawatiran itu.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh melihat regulator bergerak cepat untuk mengatasi hal ini.
“Kita lihat regulator baik dari OJK maupun BEI amat proaktif dalam memfinalkan proposal ke MSCI,” ujarnya.
Menurut Michael, rilis country classification dari FTSE pada 7 April nanti bisa menjadi sinyal awal untuk arah keputusan MSCI.
BRI Danareksa menjelaskan, BEI, OJK, dan KSEI telah berdiskusi intensif dengan MSCI untuk mempercepat reformasi. Isunya seputar transparansi kepemilikan manfaat, likuiditas, dan free float saham.
BEI sendiri menargetkan proposal ke MSCI rampung pekan ini, termasuk rencana penurunan batas keterbukaan kepemilikan saham jadi di atas 1 persen dan peningkatan minimum free float bertahap hingga 15 persen pada 2028-2029.
Jadi, Rabu yang cerah ini mungkin baru awal. Perjalanan pasar ke depan masih akan ditentukan oleh dua hal: diplomasi global dan ketangguhan reformasi di dalam negeri.
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 1,07%, Sektor Industri Paling Terpukul di Awal Perdagangan
Harga Emas Batangan di Pegadaian Naik Signifikan pada Kamis
Pasar Valas Antisipasi Pidato Trump Soal Gencatan Senjata Teluk
Harga Emas Melonjak 1,95% Didorong Pelemahan Dolar dan Isu De-eskalasi Timur Tengah