Rabu kemarin, pasar saham kita akhirnya bernafas lega. Setelah empat hari berturut-turut tertekan, IHSG berhasil rebound cukup signifikan, menguat 1,93 persen ke level 7.184,44. Gerakan ini sejalan dengan reli yang terjadi di hampir seluruh bursa Asia, didorong oleh satu hal: sentimen geopolitik yang mulai mereda.
Ya, kabar tentang deeskalasi konflik di Timur Tengah rupanya jadi angin segar bagi investor. Meski begitu, euforianya belum bisa dibilang solid. Banyak yang masih menunggu kepastian lebih lanjut kapan perang benar-benar berakhir, dan yang tak kalah penting, keputusan dari FTSE dan MSCI yang bakal keluar dalam waktu dekat.
Di tengah kondisi itu, saham-saham konglomerat justru unjuk gigi. Yang paling mencolok adalah Grup Bakrie. VKTR melesat 17,27 persen, disusul DEWA yang naik 15,83 persen. BUMI, BNBR, dan BRMS juga ikut menguat dengan kenaikan yang cukup tajam. ENRG pun tak ketinggalan.
Grup Barito milik Prajogo Pangestu juga ikut merasakan kehangatan pasar. BRPT, CUAN, dan CDIA sama-sama catatkan penguatan. BREN dan PTRO ikut naik, walau TPIA justru sedikit terkoreksi.
Tak hanya itu, saham-saham milik Hapsoro seperti RATU, BUVA, dan RAJA juga bergerak positif. Dari kubu Grup Salim, PANI dan AMMN menguat. DSSA dari Sinarmas juga ikut meramaikan. Saham milik Haji Isam, JARR, naik 5,43 persen, sementara TEBE dan PGUN bergerak variatif. WIFI milik Hashim Djojohadikusumo juga naik 6,10 persen.
Konsorsium Garibaldi 'Boy' Thohir melalui AADI dan ADRO juga jadi perhatian pasar hari itu.
Tapi, di balik kenaikan yang menggembirakan ini, ada fakta yang perlu dicermati. Mayoritas saham konglomerat itu masih terpaut jauh dari level all time high-nya. Ambil contoh BNBR, yang masih sekitar 98,48 persen di bawah puncaknya. BUMi dan ENRG juga masih tertekan dalam, masing-masing 97,07 persen dan 86,48 persen di bawah ATH.
Level ATH untuk saham-saham Bakrie seperti BNBR, BUMI, dan ENRG itu sendiri berasal dari era sebelum 2008, saat harganya melambung tinggi sebelum akhirnya rontok diterpa krisis finansial global dan proses restrukturisasi utang yang berat.
Dari Grup Barito, BRPT masih 67,77 persen di bawah ATH. CUAN, RATU, dan PANi juga masih terpaut sekitar 59-60 persen dari puncaknya. Yang paling dekat dengan level tertingginya justru AADI, yang hanya sekitar 9,96 persen di bawah ATH.
Menanggapi pergerakan ini, analis dari BRI Danareksa Sekuritas menilai reli IHSG sejalan dengan perubahan cepat menuju mode 'risk-on' di pasar global. Deeskalasi Timur Tengah jadi katalis utamanya, setelah pasar merespons sinyal diplomatik dari Iran dan kabar potensi penarikan pasukan AS.
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 1,07%, Sektor Industri Paling Terpukul di Awal Perdagangan
Harga Emas Batangan di Pegadaian Naik Signifikan pada Kamis
Pasar Valas Antisipasi Pidato Trump Soal Gencatan Senjata Teluk
Harga Emas Melonjak 1,95% Didorong Pelemahan Dolar dan Isu De-eskalasi Timur Tengah