Harga emas dunia merangkak naik untuk hari keempat berturut-turut pada Rabu kemarin. Sentimen pasar sedikit lebih cerah, didorong oleh pelemahan dolar AS dan harapan samar-samar bahwa ketegangan di Timur Tengah mungkin mulai mereda.
Emas spot sendiri melonjak cukup signifikan, naik 1,95 persen ke level USD 4.758,07 per troy ons. Pelemahan dolar, yang terjadi untuk hari kedua, jelas jadi angin segar. Bagi investor yang memegang mata uang lain, emas jadi terlihat lebih murah dan menarik.
Bob Haberkorn, seorang strategis pasar senior di RJO Futures, melihat peluang emas bisa kembali menembus level psikologis yang tinggi.
"Harga emas bisa kembali bergerak di atas USD 5.000 per troy ons jika kita berada di jalur de-eskalasi," ujarnya, seperti dikutip Reuters.
"Sebab, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed bisa kembali menguat. Fokus pasar sekarang tertuju ke Iran dan Selat Hormuz bagaimana konflik ini berkembang dan seperti apa arah ke depannya," imbuh Haberkorn.
Namun begitu, situasi di lapangan masih penuh dengan klaim dan bantahan. Presiden AS Donald Trump lewat Truth Social menyatakan bahwa presiden Iran meminta gencatan senjata. Klaim itu langsung dibantah keras oleh juru bicara kementerian luar negeri Iran, yang menyebut pernyataan Trump tidak benar dan tidak berdasar sama sekali.
Trump rencananya akan menyampaikan pidato publik hari Kamis ini pukul 08.00 WIB. Sementara itu, media Axios sebelumnya melaporkan bahwa memang ada pembahasan serius soal gencatan senjata. Jadi, kita tunggu saja perkembangannya.
Analis pasar lain, Tony Sycamore dari IG, punya pandangan menarik. Menurutnya, berakhirnya konflik justru bisa jadi pedang bermata dua bagi logam kuning ini.
"Di satu sisi, perdamaian yang berkelanjutan akan menghilangkan permintaan 'safe haven' yang sebelumnya menopang harga," kata Sycamore.
"Tapi di sisi lain, turunnya harga minyak dan meredanya inflasi bisa menghidupkan kembali ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026. Dan itu justru diperkirakan akan membantu harga emas," lanjutnya.
Perlu diingat, Maret lalu bukan bulan yang baik bagi emas. Logam mulia ini tercatat anjlok lebih dari 11 persen sepanjang bulan itu. Penyebabnya? Lonjakan harga energi akibat perang Iran yang memicu kekhawatiran inflasi baru. Kekhawatiran itu memaksa pasar untuk mengurangi ekspektasi pemotongan suku bunga.
Memang, emas selalu dianggap sebagai pelindung nilai di kala gejolak geopolitik dan inflasi melanda. Tapi, ketika suku bunga tinggi seperti sekarang, daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil ini pasti berkurang.
Data ekonomi AS terbaru juga cukup solid. Laporan ADP menunjukkan perekrutan sektor swasta meningkat stabil di Maret. Penjualan ritel pada Februari juga naik dengan cukup kuat, meski ada kekhawatiran lonjakan harga bensin bisa menekan daya beli konsumen dalam beberapa bulan mendatang.
Di pasar logam mulia lainnya, perak spot naik 1,2 persen ke USD 76,03 per ons. Platinum menguat 1,6 persen ke USD 1.979,30, sementara paladium naik 1,3 persen ke level USD 1.495,95.
Artikel Terkait
Wall Street Menguat di Awal Perdagangan, Optimisme AI dan Harapan Damai AS-Iran Jadi Pendorong
PT Segar Kumala Indonesia Alihkan Transaksi Impor ke Yuan China untuk Tekan Dampak Pelemahan Rupiah
Citra Tubindo Bagikan Dividen 21,78 Juta Dolar AS ke Pemegang Saham
PT BEEF Rombak Direksi dan Komisaris, Ari Wijayanto Ditunjuk sebagai Dirut Baru