Industri kreatif dinilai punya potensi besar untuk jadi tempat uji coba program Magang Nasional. Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, dalam sebuah keterangan di Jakarta, Rabu lalu.
Menurutnya, sektor yang satu ini menawarkan ruang belajar yang unik. Tak cuma itu, industri kreatif juga membuka peluang serapan tenaga kerja dari bidang-bidang ekonomi baru yang terus berkembang pesat.
“Kami melihat ini sebagai sesuatu yang positif. Industri kreatif merupakan sektor yang perlu didukung karena dapat membuka lapangan kerja dan menumbuhkan industri di Indonesia,” tegas Menaker.
Karakter industri kreatif sendiri memang beda. Sektor ini menuntut adaptasi cepat, kreativitas tinggi, kolaborasi, dan eksekusi yang tepat. Nah, justru karena karakternya yang khas itulah, ia bisa menjadi laboratorium pembelajaran yang ideal. Di sini, model pelaksanaan magang nasional bisa diuji dan diperkaya, jauh dari kesan sektor-sektor konvensional yang sudah biasa.
Yassierli meyakini, dengan pengelolaan yang baik, industri kreatif bukan cuma jadi tempat magang yang efektif. Lebih dari itu, ia berpotensi menciptakan lapangan kerja baru dan mendongkrak pertumbuhan industri dalam negeri.
Di sisi lain, pemerintah punya harapan jelas untuk program Magang Nasional ini. Intinya, program ini harus memberikan pengalaman kerja yang nyata, pendampingan serius, dan penguatan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja.
“Dengan pola tersebut, peserta diharapkan tidak hanya menjalani masa magang, tetapi juga mengalami peningkatan keterampilan yang terukur,” katanya.
Program ini dirancang selama enam bulan. Peserta akan didampingi mentor dan mencatat aktivitas harian mereka sebagai bahan evaluasi perkembangan kompetensi.
Yassierli juga menegaskan satu hal penting. Tujuan utama magang ini bukan untuk menjamin peserta langsung diangkat jadi karyawan tetap. Fokusnya lebih pada penyiapan mereka agar lebih siap dan tangguh saat bersaing di pasar kerja.
“Sasaran utama magang adalah penyiapan tenaga kerja agar siap bekerja. Sebelum magang, banyak peserta merupakan fresh graduate tanpa pengalaman. Setelah enam bulan, mereka memiliki pengalaman kerja dan sertifikat magang sehingga kompetensinya meningkat,” ujar dia.
Meski begitu, dalam prakteknya, sering juga terjadi hal lain. Banyak perusahaan yang akhirnya memutuskan merekrut mantan peserta magang setelah melihat langsung kemampuan dan kontribusi mereka selama setengah tahun itu.
Menurut Menaker, ini adalah dampak positif yang menyenangkan, meski memang bukan target utamanya.
“Di beberapa tempat, perusahaan akhirnya merekrut peserta karena sudah enam bulan bekerja bersama dan dinilai siap. Itu memang bukan tujuan utama, tetapi menjadi dampak positif dari program ini,” jelas Yassierli.
Jadi, selain menyiapkan tenaga kerja, program ini rupanya juga membuka jalan yang lebih mulus bagi para fresh graduate untuk benar-benar mendapatkan pekerjaan. Sebuah nilai tambah yang tentu disambut baik.
Artikel Terkait
Remaja 14 Tahun Dibacok di Kepala saat Tawuran Dua Geng di Cikupa, Polisi Tangkap Pelaku dalam 24 Jam
16 Armada Angkutan Barang Terjaring Razia Gabungan di Ancol, Didominasi Pelanggaran Dokumen dan Muatan Berlebih
Potensi Ekonomi Haji dan Umrah Rp60 Triliun per Tahun Dinilai Belum Maksimal, Pasokan Pangan Jemaah Masih Impor
Anggaran Rp100 Miliar untuk 1.098 Sapi Kurban Presiden Prabowo Bersumber dari APBN