Konflik Timur Tengah Pacu Harga Batu Bara, Saham Emiten di BEI Menguat

- Rabu, 01 April 2026 | 07:25 WIB
Konflik Timur Tengah Pacu Harga Batu Bara, Saham Emiten di BEI Menguat

Lagi-lagi, konflik di Timur Tengah memicu gejolak di pasar. Kali ini, saham-saham batu bara di Bursa Efek Indonesia yang mendapat angin segar. Lonjakan harga komoditas energi global, didorong situasi geopolitik yang memanas, membuat sektor ini kembali bersinar.

Mayoritas emiten batu bara tercatat menguat, baik dalam rentang sepekan maupun sebulan terakhir. Menurut William Hartanto dari WH Project, sentimen krisis energi adalah pendorong utamanya.

"Mayoritas menguat. Momentumnya juga sedang ada karena konflik Timur Tengah ini menjadi faktor penguat komoditas," kata William, Selasa lalu.
Dia menambahkan, secara teknikal, beberapa saham masih menarik untuk dikoleksi, terutama saat koreksi terbatas. "ITMG, AADI, PTBA, rekomendasi beli semua. Kalau memungkinkan, buy on weakness saat terjadi pelemahan terbatas," imbuhnya.

Pandangan itu sejalan dengan data pergerakan saham. PT Indo Tambangraya Megah (ITMG), misalnya, melesat 26,49 persen dalam sebulan ke level Rp29.725. PT Adaro Andalan Indonesia (AADI) juga tak kalah perkasa, naik 13,89 persen ke Rp11.275.

Di sisi lain, PT Bukit Asam (PTBA) menguat 15,64 persen, sementara United Tractors (UNTR) dan ABM Investama (ABMM) masing-masing naik 8,19 persen dan 5,78 persen dalam periode yang sama. Hanya Harum Energy (HRUM) yang tampak tertahan, terkoreksi 15 persen dalam sebulan meski sempat naik tipis sepekan.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi dengan komoditas ini? Rupanya, harga batu bara global sendiri sedang meroket. Data terbaru menunjukkan harganya menembus USD140 per ton, dengan peluang kenaikan lebih dari 20 persen sepanjang Maret. Ini jadi lonjakan bulanan terbesar sejak puncak perang Rusia-Ukraina dua tahun silam.

Konflik yang berkepanjangan itu membuat premi risiko di pasar energi tetap tinggi. Alhasil, banyak pembangkit listrik di Asia dan Eropa beralih ke batu bara. Lebih murah, katanya. Jepang bahkan memberi sinyal akan meningkatkan pembangkit listrik berbasis batu bara untuk mengantisipasi guncangan energi.

Namun begitu, situasinya rumit. Ada laporan bahwa AS bersedia mengakhiri kampanye militernya terhadap Iran, meski Selat Hormuz belum sepenuhnya aman. Ini berpotensi memberi Teheran kendali lebih besar. Belum lagi kabar bahwa Iran menyiapkan gangguan di Laut Merah, yang bisa mengacaukan dua koridor perdagangan global sekaligus.

Analis dari BRI Danareksa Sekuritas melihat pola yang jelas. Kenaikan harga minyak dan gas yang masing-masing sekitar 36 persen dan 23 persen memicu peralihan massal ke batu bara. Logikanya sederhana: saat energi lain mahal, batu bara jadi pilihan yang lebih ekonomis.

Jadi, dari sisi pasar, batu bara kembali menjadi 'penerima manfaat' dari kekacauan global. Permintaan meningkat karena substitusi dari gas. Selama harga energi lain tetap tinggi, sentimen terhadap si hitam ini masih cenderung bullish.

Perlu diingat, keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan Anda. Tulisan ini hanya menyajikan gambaran situasi, bukan ajakan untuk membeli atau menjual.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar