PMI Manufaktur Indonesia Melambat Drastis ke 50,1 pada Maret 2026, Dampak Perang Timur Tengah

- Rabu, 01 April 2026 | 10:55 WIB
PMI Manufaktur Indonesia Melambat Drastis ke 50,1 pada Maret 2026, Dampak Perang Timur Tengah

Angka Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia untuk Maret 2026 baru saja dirilis. Hasilnya? Ada perlambatan yang cukup terasa. Dari posisi 53,8 di bulan Februari, indeks ini turun ke level 50,1 menurut data S&P Global. Perlu diingat, angka di atas 50 masih menandakan ekspansi, sementara di bawahnya berarti kontraksi. Jadi, meski masih di zona pertumbuhan, lajunya melemah drastis.

Lalu, apa penyebabnya? Dari laporan yang beredar, perang di Timur Tengah disebut-sebut jadi biang kerok utama. Konflik itu ternyata tak cuma jadi berita di layar kaca, tapi benar-benar menggoyang rantai pasok dan harga bahan baku. Akibatnya, produksi dan permintaan ikut terganggu. Di sisi lain, kondisi ekonomi secara umum yang belum terlalu kuat juga bikin aktivitas pembelian melambat. Tumpukan pekerjaan bertambah, dan sektor ketenagakerjaan pun ikut merasakan dampaknya.

Usamah Bhatti, ekonom dari S&P Global Market Intelligence, memberikan penjelasan lebih rinci.

"Laporan dari anggota panel kami menunjukkan, pecahnya perang di Timur Tengah adalah faktor kunci di balik penurunan ini. Ada tekanan signifikan pada harga dan pasokan bahan baku, yang akhirnya berdampak pada produksi dan permintaan. Inflasi biaya bahkan terdorong ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir," ujarnya dalam pernyataan resmi, Rabu (1/4/2026).

Data yang ada cukup gamblang. Setelah empat bulan berturut-turut tumbuh dengan kenaikan besar di Februari tingkat produksi justru mengalami penurunan baru di Maret. Para pelaku usaha mengeluhkan kelangkaan pasokan dan material yang harganya melambung. Selain perang Timur Tengah, gejolak ekonomi global turut memperkeruh situasi.

Yang juga mengkhawatirkan, volume pesanan baru melambat untuk pertama kalinya dalam delapan bulan. Memang, penurunannya masih marginal. Tapi ini jelas perubahan yang mencolok dibanding ekspansi besar-besaran di periode sebelumnya.

Meski begitu, bukan berarti semua suram. Kepercayaan bisnis pelaku manufaktur ternyata sedikit meningkat, walau tetap di bawah rata-rata jangka panjang. Mereka masih optimis output akan naik sepanjang tahun ini.

"Perusahaan manufaktur tetap percaya diri," kata Bhatti menambahkan.

"Namun, data Maret ini menyoroti kerentanan sektor manufaktur kita. Terutama terhadap gejolak geopolitik seperti perang, yang langsung menghantam sisi harga dan ketersediaan bahan baku."

Singkatnya, situasinya kompleks. Optimisme masih ada, tapi ancamannya nyata dan datang dari tempat yang jaraknya ribuan kilometer. Sekarang, semua mata tertuju pada bagaimana para pemain industri menyiasati tantangan ini di bulan-bulan mendatang.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar