Angka Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia untuk Maret 2026 baru saja dirilis. Hasilnya? Ada perlambatan yang cukup terasa. Dari posisi 53,8 di bulan Februari, indeks ini turun ke level 50,1 menurut data S&P Global. Perlu diingat, angka di atas 50 masih menandakan ekspansi, sementara di bawahnya berarti kontraksi. Jadi, meski masih di zona pertumbuhan, lajunya melemah drastis.
Lalu, apa penyebabnya? Dari laporan yang beredar, perang di Timur Tengah disebut-sebut jadi biang kerok utama. Konflik itu ternyata tak cuma jadi berita di layar kaca, tapi benar-benar menggoyang rantai pasok dan harga bahan baku. Akibatnya, produksi dan permintaan ikut terganggu. Di sisi lain, kondisi ekonomi secara umum yang belum terlalu kuat juga bikin aktivitas pembelian melambat. Tumpukan pekerjaan bertambah, dan sektor ketenagakerjaan pun ikut merasakan dampaknya.
Usamah Bhatti, ekonom dari S&P Global Market Intelligence, memberikan penjelasan lebih rinci.
"Laporan dari anggota panel kami menunjukkan, pecahnya perang di Timur Tengah adalah faktor kunci di balik penurunan ini. Ada tekanan signifikan pada harga dan pasokan bahan baku, yang akhirnya berdampak pada produksi dan permintaan. Inflasi biaya bahkan terdorong ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir," ujarnya dalam pernyataan resmi, Rabu (1/4/2026).
Data yang ada cukup gamblang. Setelah empat bulan berturut-turut tumbuh dengan kenaikan besar di Februari tingkat produksi justru mengalami penurunan baru di Maret. Para pelaku usaha mengeluhkan kelangkaan pasokan dan material yang harganya melambung. Selain perang Timur Tengah, gejolak ekonomi global turut memperkeruh situasi.
Artikel Terkait
Pemprov DKI Terapkan WFH Jumat, ASN Pelayanan Publik Tetap Wajib ke Kantor
Indonesia Kutuk Serangan ke Pasukan Perdamaian di Lebanon, Desak PBB Selidiki Israel
Harga Emas Antam Naik Rp75.000, Buyback Melonjak Rp110.000
Aplikasi X Lumpuh Total, Ribuan Pengguna Global Terdampak