Indonesia Kutuk Serangan ke Pasukan Perdamaian di Lebanon, Desak PBB Selidiki Israel

- Rabu, 01 April 2026 | 11:35 WIB
Indonesia Kutuk Serangan ke Pasukan Perdamaian di Lebanon, Desak PBB Selidiki Israel

Di ruang sidang Dewan Keamanan PBB yang tegang, Wakil Tetap RI, Duta Besar Umar Hadi, tak bisa menyembunyikan gejolak di hatinya. Rasa duka bercampur kemarahan menyelimuti pernyataannya. Ini semua menyusul serangan keji terhadap pasukan perdamaian Indonesia yang bertugas di Lebanon, di bawah bendera UNIFIL.

Sidang darurat itu sendiri digelar atas desakan Indonesia bersama Prancis. Langkah ini, menurut sejumlah pengamat, bukan hal mendadak. Ini adalah wujud nyata dari komitmen Jakarta yang sudah berlangsung lama terhadap misi pemelihara perdamaian PBB.

Umar Hadi dengan tegas mengutuk serangan pada akhir Maret lalu. Peristiwa tragis itu merenggut nyawa tiga prajurit Tanah Air dan melukai lima lainnya. Suaranya bergetar menyebut angka-angka itu.

Menurut Indonesia, akar masalahnya jelas: eskalasi ini dipicu oleh serangan militer Israel yang terus menerus. Mereka dinilai telah melanggar kedaulatan Lebanon berulang kali. Bahkan, serangan-serangan semacam ini bukan cuma ancaman lokal. Ini adalah ancaman langsung bagi perdamaian global dan bisa digolongkan sebagai kejahatan perang di bawah hukum internasional.

“Biar saya perjelas,” tegas Umar Hadi, dengan nada yang tak terbantahkan.

“Kami menuntut penyelidikan langsung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, bukan sekadar alasan-alasan dari Israel.”

Permintaan itu disampaikannya di New York, dan dikutip kembali pada Rabu pagi.

Namun begitu, tuntutan Indonesia tidak berhenti di situ. Mereka juga mendesak akuntabilitas hukum bagi para pelaku. Ada tiga poin penting yang ditekankan. Pertama, soal pemulangan jenazah ketiga pahlawan itu. Prosesnya harus cepat, aman, dan penuh martabat. Sementara untuk yang terluka, perawatan medis terbaik mutlak diberikan.

Kedua, Indonesia meminta jaminan konkret. Semua pihak, tak terkecuali Israel, harus menjunjung tinggi hukum internasional. Perilaku agresif yang membahayakan personel dan aset PBB harus dihentikan. Sekarang juga.

Terakhir, ada seruan untuk langkah darurat. Dewan Keamanan PBB dan Sekretaris Jenderal didesak bertindak. Perlindungan penuh bagi personel UNIFIL adalah harga mati. Ini termasuk meninjau ulang protokol keamanan dan menyiapkan rencana evakuasi yang jelas jika keadaan memburuk.

Suasana di sidang meninggalkan kesan mendalam. Sebuah tragedi di medan misi perdamaian sekali lagi mengingatkan dunia tentang betapa rapuhnya perdamaian itu sendiri.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar