Efektivitas Pabrik RDF Rorotan Bergantung pada Disiplin Warga Memilah Sampah

- Jumat, 15 Mei 2026 | 14:15 WIB
Efektivitas Pabrik RDF Rorotan Bergantung pada Disiplin Warga Memilah Sampah

Keberadaan pabrik pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif, atau Refuse Derived Fuel (RDF), di Rorotan, Jakarta Utara, membawa secercah harapan dalam mengatasi darurat sampah ibu kota. Namun, efektivitas fasilitas ini sangat bergantung pada satu faktor kunci: kedisiplinan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, dalam keterangan tertulis pada Jumat, 15 Mei 2026, menegaskan bahwa keberhasilan RDF tidak bisa dilepaskan dari proses pemilahan di hulu. Menurutnya, pabrik ini bukanlah solusi instan yang menggantikan kewajiban warga untuk memilah sampah rumah tangga.

"Keberhasilan RDF sangat bergantung pada pemilahan sampah di hulu," ujar Dudi.

Ia menjelaskan bahwa RDF merupakan bagian integral dari sistem pengelolaan sampah terpadu. Tanpa disiplin pemilahan, sampah yang masuk ke pabrik masih akan tercampur dan memiliki kadar air tinggi, sehingga proses produksi bahan bakar alternatif tidak dapat berjalan optimal.

Saat ini, RDF Plant Rorotan baru mampu mengolah sekitar 400 hingga 700 ton sampah per hari. Kapasitas tersebut direncanakan akan ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 1.000 ton per hari pada akhir 2026. Meskipun demikian, kapasitas maksimal yang diproyeksikan untuk pabrik ini hanyalah sebesar 2.500 ton per hari.

Angka itu masih jauh dari total timbulan sampah harian Jakarta yang mencapai kurang lebih 9.000 ton per hari. Realitas ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur pengolahan saja tidaklah cukup untuk menyelesaikan persoalan sampah secara menyeluruh.

"RDF merupakan bagian dari sistem pengelolaan sampah terpadu yang harus didukung disiplin masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya," kata Dudi.

Di sinilah peran masyarakat menjadi krusial. Gerakan memilah sampah di tingkat rumah tangga harus menjadi kebiasaan yang terus digalakkan, bukan sekadar wacana. Tanpa partisipasi aktif warga, teknologi pengolahan semodern apa pun akan menghadapi hambatan serius dalam mencapai tujuannya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar