PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) terus memperkuat perannya dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia melalui pengembangan energi panas bumi rendah karbon. Sepanjang tahun 2025, perusahaan yang tercatat dengan kode saham PGEO ini berhasil mencatat penghematan energi sebesar 90.502,28 MWh, melonjak signifikan dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang hanya mencapai 40.058,77 MWh. Peningkatan efisiensi ini menjadi bagian integral dari strategi operasi berkelanjutan yang terus diperkuat di seluruh lini bisnis dan operasional perseroan.
Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, menegaskan bahwa penerapan prinsip keberlanjutan secara konsisten menjadi fondasi penting dalam memastikan pengembangan panas bumi tetap andal, efisien, dan kompetitif.
“Seluruh implementasi keberlanjutan Perseroan dilakukan secara transparan dengan mengacu pada standar pelaporan global dan telah diverifikasi oleh lembaga independen berlisensi AA1000,” ujarnya.
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, peningkatan efisiensi energi PGE didorong oleh berbagai optimalisasi operasional di sejumlah wilayah kerja panas bumi (WKP). Beberapa langkah yang ditempuh antara lain debottlenecking jalur produksi di Area Ulubelu agar sumur bertekanan rendah dapat masuk ke sistem produksi, optimalisasi vacuum pump pada Gas Extraction System di seluruh PLTP untuk menekan konsumsi internal listrik (own use), hingga modifikasi hand control valve di Lumut Balai guna mengurangi pembuangan uap ke rock muffler.
Di samping itu, perseroan mulai memperluas pemanfaatan energi terbarukan untuk kebutuhan internal operasional, termasuk penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di fasilitas operasi maupun perkantoran. Langkah ini ditempuh agar pemanfaatan listrik dan uap panas bumi dapat semakin optimal dalam mendukung sistem ketenagalistrikan nasional. PGE juga mencatat rasio intensitas energi sebesar 0,037 MWh/MWh sepanjang 2025, atau turun sekitar 10,10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rasio ini menunjukkan bahwa efisiensi penggunaan energi perusahaan semakin meningkat. Sementara itu, porsi penggunaan energi terbarukan dalam kegiatan operasional perseroan tetap terjaga tinggi hingga mencapai 94,36 persen.
Dari sisi pengelolaan emisi, intensitas emisi PGE tercatat sebesar 41,12 g CO2e/kWh. Angka tersebut masih jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan dalam EU Taxonomy maupun Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia, yaitu sebesar 100 g CO2e/kWh. Capaian ini menegaskan bahwa operasional panas bumi perseroan masih berada dalam kategori energi rendah karbon. Sepanjang 2025, kapasitas operasi panas bumi PGE juga berkontribusi terhadap penghindaran emisi lebih dari 4,29 juta ton CO2e.
Tidak hanya fokus pada energi dan emisi, PGE juga memperkuat pengelolaan limbah non-B3 melalui pendekatan 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery). Pada 2025, volume limbah non-B3 yang berhasil dikelola mencapai 17 ton, meningkat sekitar 24,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pengelolaan tersebut dilakukan melalui konsep waste circularity dengan melibatkan bank sampah dan tempat pemrosesan akhir (TPA) di luar area operasional perseroan. Limbah kemudian dipilah, digunakan kembali, didaur ulang, hingga diolah menjadi kompos bersama masyarakat sekitar.
Di sisi lain, konsumsi air perseroan juga mengalami penurunan signifikan. Pada 2025, penggunaan air tercatat turun 33,31 persen menjadi 262,24 megaliter dibandingkan 393,23 megaliter pada tahun sebelumnya.
Komitmen dekarbonisasi PGE juga diwujudkan lewat pengembangan bisnis beyond electricity, termasuk pengembangan ekosistem green hydrogen berbasis panas bumi. Salah satu proyek yang tengah dikembangkan adalah Tanjung Sekong Green Terminal yang memanfaatkan green hydrogen untuk mendukung kebutuhan energi terminal LPG di Cilegon. Selain itu, perseroan juga membuka peluang pemanfaatan panas bumi untuk pengembangan industri hijau lainnya, termasuk green data center berbasis energi bersih rendah emisi.
Sebagai sumber energi baru terbarukan, panas bumi dinilai memiliki peran strategis karena mampu menghasilkan listrik stabil selama 24 jam tanpa bergantung pada kondisi cuaca maupun impor bahan bakar. Karakteristik tersebut menjadikan panas bumi sebagai salah satu tulang punggung penting dalam mendukung transisi energi nasional dan memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Artikel Terkait
Kementan Perketat Pengawasan Zoonosis dan Keamanan Daging Jelang Iduladha 2026
200 Ribu Anak Terpapar Judi Online, 80 Ribu di Antaranya Usia di Bawah 10 Tahun
Polis Amankan Pisau dan 12 CCTV di TKP Mahasiswi Unpad Diduga Korban Percobaan Curas
Duma Beri Putin Wewenang Kerahkan Militer untuk Lindungi Warga Rusia di Luar Negeri